Minggu, 26 Oktober 2008
Definisi Autis
Sumber: www.info-sehat.com
www.infoautis.com
Kontributor: Nuruls Sofa
Penyebab Autisme ?
Autisme, sebuah penyakit yang satu abad yang lalu hampir tidak terdengar sama sekali, kini sudah hampir menjadi sesuatu yang normal. Perkembangan autisme terutama makin melejit di beberapa dekade terakhir, seperti yang dapat dilihat pada grafik di sebelah kanan.
Ketika sudah terlanjur, Autisme bisa sangat sulit untuk dikendalikan, apalagi untuk disembuhkan. Jika kita mengetahui berbagai potensi penyebabnya, maka mudah-mudahan kita bisa mengatur agar anak kita terhindar dari itu semua. “Mencegah lebih baik daripada mengobati”, kata pepatah. Dan untuk kasus Autisme, dimana di Amerika saja perawatannya memakan biaya US$ 35 milyar per tahun, pepatah ini sangat telak mengenai sasaran.
Penyebab pasti autisme belum diketahui sampai saat ini. Kemungkinan besar, ada banyak penyebab autisme, bukan hanya satu.
Dahulu sempat diduga bahwa autisme disebabkan karena cacat genetik. Namun cacat genetika tidak mungkin terjadi dalam skala demikian besar dan dalam waktu demikian singkat. Karena itu kemudian para peneliti sepakat bahwa ada banyak kemungkinan penyebab autisme lainnya.
Berbagai hal yang dicurigai berpotensi untuk menyebabkan autisme :
- Vaksin yang mengandung Thimerosal : Thimerosal adalah zat pengawet yang digunakan di berbagai vaksin. Karena banyaknya kritikan, kini sudah banyak vaksin yang tidak lagi menggunakan Thimerosal di negara maju. Namun, entah bagaimana halnya di negara berkembang …
- Televisi : Semakin maju suatu negara, biasanya interaksi antara anak - orang tua semakin berkurang karena berbagai hal. Sebagai kompensasinya, seringkali TV digunakan sebagai penghibur anak. Ternyata ada kemungkinan bahwa TV bisa menjadi penyebab autisme pada anak, terutama yang menjadi jarang bersosialisasi karenanya.
Dampak TV tidak dapat dipungkiri memang sangat dahsyat, tidak hanya kepada perorangan, namun bahkan kepada masyarakat dan/atau negara. Contoh paling nyata adalah kasus pada negara terpencil Bhutan - begitu mereka mengizinkan TV di negara mereka, jumlah dan jenis kejahatan meningkat dengan drastis.
Bisa kita bayangkan sendiri apa dampaknya kepada anak-anak kita yang masih polos. Hiperaktif ? ADHD ? Autisme ? Sebuah penelitian akhirnya kini telah mengakui kemungkinan tersebut.
- Genetik : Ini adalah dugaan awal dari penyebab autisme; autisme telah lama diketahui bisa diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya.
Namun tidak itu saja, juga ada kemungkinan variasi-variasi lainnya. Salah satu contohnya adalah bagaimana anak-anak yang lahir dari ayah yang berusia lanjut memiliki kans lebih besar untuk menderita autisme. (walaupun sang ayah normal / bukan autis)
- Makanan : Pada tahun 1970-an, Dr. Feingold dan kolega-koleganya menyaksikan peningkatan kasus ADHD dalam skala yang sangat besar. Sebagai seseorang yang pernah hidup di era 20 / 30-an, dia masih ingat bagaimana ADHD nyaris tidak ada sama sekali di zaman tersebut.
Dr. Feingold kebetulan telah mulai mengobati beberapa kasus kelainan mental sejak tahun 1940 dengan memberlakukan diet khusus kepada pasiennya, dengan hasil yang jelas dan cenderung dalam waktu yang singkat.
Terapi diet tersebut kemudian dikenal dengan nama The Feingold Program.
Pada intinya, berbagai zat kimia yang ada di makanan modern (pengawet, pewarna, dll) dicurigai menjadi penyebab dari autisme pada beberapa kasus. Ketika zat-zat tersebut dihilangkan dari makanan para penderita autisme, banyak yang kemudian mengalami peningkatan situasi secara drastis.
Dr. Feingold membayar penemuannya ini dengan cukup mahal. Sekitar tahun 1970-an, beliau dikhianati oleh The Nutrition Foundation, dimana Coca cola, Kraft foods, dll adalah anggotanya. Beliau tiba-tiba diasingkan oleh AMA, dan ditolak untuk menjadi pembicara dimana-mana.
Syukurlah kemudian berbagai buku beliau bisa terbit, dan hari ini kita jadi bisa tahu berbagai temuan-temuannya seputar bahaya makanan modern. - Radiasi pada janin bayi : Sebuah riset dalam skala besar di Swedia menunjukkan bahwa bayi yang terkena gelombang Ultrasonic berlebihan akan cenderung menjadi kidal.
Dengan makin banyaknya radiasi di sekitar kita, ada kemungkinan radiasi juga berperan menyebabkan autisme. Tapi bagaimana menghindarinya, saya juga kurang tahu. Yang sudah jelas mudah untuk dihindari adalah USG - hindari jika tidak perlu. - Folic Acid : Zat ini biasa diberikan kepada wanita hamil untuk mencegah cacat fisik pada janin. Dan hasilnya memang cukup nyata, tingkat cacat pada janin turun sampai sebesar 30%. Namun di lain pihak, tingkat autisme jadi meningkat.
Pada saat ini penelitian masih terus berlanjut mengenai ini. Sementara ini, yang mungkin bisa dilakukan oleh para ibu hamil adalah tetap mengkonsumsi folic acid - namun tidak dalam dosis yang sangat besar (normalnya wanita hamil diberikan dosis folic acid 4x lipat dari dosis normal).
Atau yang lebih baik - perbanyak makan buah-buahan yang kaya dengan folic acid, karena alam bisa mencegah tanpa menyebabkan efek samping :
Nature is more precise; that’s why all man-made drugs have side effects
- Sekolah lebih awal : Agak mengejutkan, namun ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa menyekolahkan anak lebih awal (pre school) dapat memicu reaksi autisme.
Diperkirakan, bayi yang memiliki bakat autisme sebetulnya bisa sembuh / membaik dengan berada dalam lingkupan orang tuanya. Namun, karena justru dipindahkan ke lingkungan asing yang berbeda (sekolah playgroup / preschool), maka beberapa anak jadi mengalami shock, dan bakat autismenya menjadi muncul dengan sangat jelas.
Untuk menghindari ini, para orang tua perlu memiliki kemampuan untuk mendeteksi bakat autisme pada anaknya secara dini. Jika ternyata ada terdeteksi, maka mungkin masa preschool-nya perlu dibimbing secara khusus oleh orang tua sendiri. Hal ini agar ketika masuk masa kanak-kanak maka gejala autismenya sudah hampir lenyap; dan sang anak jadi bisa menikmati masa kecilnya di sekolah dengan bahagia.
Dan mungkin saja masih ada banyak lagi berbagai potensi penyebab autisme yang akan ditemukan di masa depan, sejalan dengan terus berkembangnya pengetahuan di bidang ini.
(sumber: http://harry.sufehmi.com/archives/2006-10-17-1302/)
Selasa, 21 Oktober 2008
Model Pelayanan Pendidikan Autisme
1. Kelas transisi
Kelas ini diperuntukkan bagi anak autistik yang telah diterapi memerlukan layanan khusus termasuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadu atau struktur. Kelas transisi sedapat mungkin berada di sekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan dimodifikasi sesuai kebutuhan anak.
2. Program Pendidikan Inklusi
Program ini dilaksanakan oleh sekolah reguler yang sudah siap memberikan layanan bagi anak autistik. Untuk dapat membuka program ini sekolah harus memenuhi persyaratan antara lain:
a. Guru terkait telah siap menerima anak autistik
b. Tersedia ruang khusus (resourse room) untuk penanganan individual
c. Tersedia guru pembimbing khusus dan guru pendamping.
d. Dalam satu kelas sebaiknya tidak lebih dari 2 (dua) anak autistik.
e. Dan lain-lain yang dianggap perlu.
3. Pragram Pendidikan Terpadu
Program Pendidikan Terpadu dilaksanakan disekolah reguler. Dalam kasus/waktu tertentu, anak-anak autistik dilayani di kelas khusus untuk remedial atau layanan lain yang diperlukan. Keberadaan anak autistik di kelas khusus bisa sebagian waktu atau sepanjang hari tergantung kemampuan anak.
4. Sekolah Khusus Autis
Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi anak autistik terutama yang tidak memungkinkan dapat mengikuti pendidikan di sekolah reguler. Anak di sekolah ini sangat sulit untuk dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi sekeliling mereka. Pendidikan di sekolah difokuskan pada program fungsional seperti bina diri, bakat, dan minat yang sesuai dengan potensi mereka.
5. Program Sekolah di Rumah
Program ini diperuntukkan bagi anak autistik yang tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya. Anak-anak autistik yang non verbal, retardasi mental atau mengalami gangguan serius motorik dan auditorinya dapat mengikuti program sekolah di rumah. Program dilaksanakan di rumah dengan mendatangkan guru pembimbing atau terapis atas kerjasama sekolah, orangtua dan masyarakat.
6. Panti (griya) Rehabilitasi Autis.
Anak autistik yang kemampuannya sangat rendah, gangguannya sangat parah dapat mengikuti program di panti (griya) rehabilitasi autistik. Program dipanti rehabilitasi lebih terfokus pada pengembangan:
(1) Pengenalan diri
(2) Sensori motor dan persepsi
(3) Motorik kasar dan halus
(4) Kemampuan berbahasa dan komunikasi
(5) Bina diri, kemampuan sosial
(6) Ketrampilan kerja terbatas sesuai minat, bakat dan potensinya.
Dari beberapa model layanan pendidikan di atas yang sudah eksis di lapangan adalah Kelas transisi, sekolah khusus autistik dan panti rehabilitasi.
Sumber: www.ditplb.or.id
Pendekatan Pembelajaran Anak Autistik
o Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Programfor Preschoolers and Parents) menggunakan stimulus respon (sama dengan DTT) tetapi anak langsung berada dalam lingkungan sosial (dengan teman-teman). Anak auitistik belajar berperilaku melalui pengamatan perilaku orang lain.
o Floor Time merupakan teknik pembelajaran melalui kegiatan intervensi interaktif. Interaksi anak dalam hubungan dan pola keluarga merupakan kondisi penting dalam menstimulasi perkembangan dan pertumbuhan kemampuan anak dari segi kumunikasi, sosial, dan perilaku anak.
o TEACCH (Treatment and Education for Autistic Childrent and Related Communication Handicaps) merupakan pembelajaran bagi anak dengan memperhatikan seluruh aspek layanan untuk pengembangan komunikasi anak. Pelayanan diprogramkan dari segi diagnosa, terapi/treatment, konsultasi, kerjasama, dan layanan lain yang dibutuhkan baik oleh anak maupun orangtua.
Sumber: www.ditplb.or.id
cerita penderita Autisme
Jakarta, Kamis
• “I am the child that looks healthy and fine. I was born with ten fingers and toes. But something is different, somewhere in my mind and what it is, nobody knows.”
Bait awal puisi “The Misunderstood Child” karya Kathy Winters itu dibaca Joshua Ephraim Sianturi dengan suara jelas dan lancar. Seperti anak normal seusianya, sosok bocah lelaki itu tampak sehat-sehat saja. "Anak saya sekarang sudah bagus, tidak menunjukkan ciri-ciri autis lagi, kecuali daya pendengarannya yang masih harus diperbaiki," tutur Debbie R. Sianturi, ibunya.
Lahir Vakum
Perempuan cantik berkulit putih ini dengan penuh semangat berkisah tentang usahanya mendampingi putra keduanya untuk keluar dan kungkungan autisme. Kehadiran Joshua memang agak berbeda. Debbie harus menunggu lima tahun untuk hamil lagi, setelah kelahiran putri sulungnya. Bahkan ia sempat menjalani terapi kesuburan dan hampir mengikuti program bayi tabung, namun kemudian bisa mengandung secara alami.
Selama kehamilan, ada beberapa faktor tidak menguntungkan yang melingkupinya. Ada kondisi yang membuatnya stres berat dan itu berakibat pada kemerosotan kekebalan tubuhnya. Sewaktu tiba kelahiran Joshua, ternyata tidak berlangsung sesuai harapan. Bayi mungil itu lahir melalui proses vakum pada tanggal 25 Agustus 1996, di Sydney, Australia. Kepalanya mengalami trauma. Sayangnya, ia tidak mendapatkan penanganan yang maksimal. Joshua kecil pun lalu sering menangis.
Semasa bayi ia berkali-kali terkena flu, pilek, dan batuk, dan kerap mendapat obat antibiotika. Suatu hari di saat sedang sakit atau sumeng itulah, di usia satu tahun tiga bulan ia menjalani vaksinasi MMR (Mumps-MeaslesRubella). Sejak saat itu perkembangannya berjalan mundur.
Kemampuan bicaranya menurun, hingga akhirnya ia tak lagi berkata-kata, Padahal, sebelumnya ia sudah pintar melafalkan “mama, papa," dan beberapa kata lain. Ia menghindari kontak mata, cara jalannya berubah menjadi jinjit. Jingle atau musik di televisi bisa dengan mudah menarik pendengarannya, tapi bila dipanggil ia sama sekali tak mau menengok. Joshua jadi benar-benar cuek dan asyik dengan dunianya sendiri.
Segera Bertindak
• Hati orangtua mana yang tidak menderita ketika melihat buah cintanya didera gangguan yang tampaknya tiada henti itu.
Debbie pun mengaku sangat tenpukul saat dokter mengatakan Joshua yang saat itu berusia satu tahun sepuluh bulan, mengidap autisme.
"Saya tidak tahu apa-apa, tapi juga tak bisa membiarkan din merasa tertekan berkepanjangan," tutur alumnus FE-UI Jakarta ini.
Perempuan dari keluarga yang kental dalam menjalankan perintah agama ini lalu tenggelam dalam doa. Ia melakukan introspeksi dan minta pertolongan Tuhan. Dengan segera ia juga bertindak mencari terapi medis dan menggali berbagai informasi menyangkut autisme.
"Kami sebagai orangtuanya memang sangat aktif karena tanggung jawab terbesar ada di pundak kami," kata istri Batara Sianturi ini.
Sayangnya, mencani ahli terapis untuk anak autis di masa itu sangat sulit. Kalaupun ada, dokter lebih mengaitkannya dengan masalah kejiwaan, sehingga obat yang diberikan pun berupa obat-obatan psikiatrik. "Padahal, yang dibutuhkan anak autis adalab terapi berupa intervensi dan perawatan medis serta nonmedis yang komprehensif, integratif, dan holistik," tambahnya.
Namun, tanpa putus asa, Debbie dan suaminya mencari alternatif pengobatan hingga ke luar negeri. Akhirnya sejak tahun 1998 berbagai program intervensi bisa dilakukan untuk Joshua. Mulai dan ABA (applied behavioral analysis) yang dirasa sangat efektif, terapi medis, terapi wicara, terapi okupasi, terapi perilaku, terapi fisik, terapi bermain, termasuk juga kraniosakral dan senam otak.
"Supaya bagian mulutnya tidak lemah perlu dilakukan terapi wicara. Ia juga dilatih cara meniup supaya tahu memakai otot-otot mulutnya dan bisa memproduksi suara," ujarnya.
Sehari 50 Kapsul
• Debbie memang berusaha keras memahami berbagai terapi untuk anaknya. Hanya saja, ia tak bisa menyerahkan proses itu sepenuhnya kepada terapisnya.
Sebagai ibu, ia ingin terlibat langsung dan melakukan apa saja yang terbaik untuk putranya. Meski melelahkan, butuh stamina fisik dan mental yang super kuat, ia tak gampang menyerah.
Setiap saat selagi Joshua terjaga ia mesti melakukan interaksi, bermain, dan berbicara, serta.menariknya keluar dan dunia autisnya. Membawanya keluar dari dunianya merupakan perjuangan panjang.
Sebagai contoh, untuk bisa meniup saja Joshua harus berlatih selama empat bulan. Untuk mengenali warna merah mesti diajari dengan sistem tertentu dan dilakukan terus-menerus.
"Istilahnya napas saja nggak sempat," ungkap Debbie. Demi anaknya, ia pun rela meninggalkan karier dan menumpahkan seluruh waktu dan perhatiannya bagi Joshua. Di samping berbagai terapi tadi, si kecil juga harus menjalani diet GFCF (Gluten Free & Casein Free). Semua makanan yang mengandung gandum dan susu sapi harus dihindarinya.
Rupanya obat-obatan antibiotika yang dulu kerap diminumnya telah membunuh bakteri jahat dan bakteri baik yang hidup dalam pencernaannya. Akibatnya, koloni jamur di pencernaan itu merajalela dan merusak ususnya.
Makanan yang tidak sempurna dicerna usus yang banyak berlubang itu kemudian menimbulkan dampak alergi. Itulah mengapa ia perlu mendapatkan penanganan nutrisi.
Satu tahun menjalani diet ini tak juga ada kemajuan yang berarti. Pada diri Joshua bahkan tampak tanda-tanda malnutrisi, tubuhnya lemah dan berat badan menurun. Perkembangan yang menggembirakan baru tampak setelah penanganan nutrisi itu dilengkapi dengan konsumsi vitamin dan suplemen.
Tak kurang dan 50 kapsul suplemen dan vitamin harus dikonsumsi Joshua setiap hari. Sebelum makan, ia mesti minum suplemen enzim pencernaan untuk membantu mencerna makanan, sehingga tidak timbul efek alergi. Hari-harinya mulai penuh dengan jadwal mengonsumsi suplemen dan vitamin.
Acara minum suplemen ini juga penuh perjuangan dan pada awalnya harus melibatkan banyak orang. "Tentu saja dia berontak, jadi harus dipegangi paling tidak oleh lima orang. Tapi, cara ini saya kira jauh lebib baik danpada menggunakan obat antidepresi yang bisa menyebabkan ketergantungan," ucap ibu tiga anak ini.
Mampu Berprestasi
• Lama-kelamaan dia terbiasa dan mau mengonsumsi puluhan suplemen itu tanpa dipaksa. Dan berkat vitamin dan suplemen itu Joshua mencapai kemajuan yang sangat bermakna.
Tubuhnya lebih sehat dan kemampuan bicaranya yang tadinya sepotong-sepotong kini sudah lancar.
Berbagai terapi yang komprehensif, integratif, dan holistik tetap dijalani Joshua dengan tekun. Ia pun masih menjalani terapi kelasi dengan suplemen, untuk membuang timbunan logam-logam berat dan dalam tubuhnya.
Dari pemeriksaan terakhir, secara klinis ia sudah tidak menunjukkan cin-ciri autis, tapi tubuhnya masih memberi respon negatif terhadap vaksin campak. Supaya sistem kekebalan tubuhnya meningkat, dokter menyarankannya untuk menjalani WIG (Intra Venous Immune Globulin).
"Sementara WIG belum bisa dilakukan karena dia harus menyelesaikan terapi kelasi dulu," ujar sang ibu. Perjuangan Debbie dan suami selama hampir lima tahun telah berbuah kebahagiaan. Kemajuan sekecil apa pun yang terjadi, selalu mereka sambut dengan rasa syukur. Apalagi Joshua kini tak jauh beda dengan anak-anak seusianya.
Murid kelas I SD PSDK Mandiri itu senang bermain dengan teman-temannya. Ia sudah bisa bercanda, suka berenang, dan main piano, juga ikut kelompok olabraga basket dan softbol di sekolah. Sewaktu masih bergabung dalam kelompok bermain dan TK, ia termasuk siswa berprestasi dalam kumon matematika.
Seperti anak modern lainnya, Joshua juga senang main komputer. "Tapi, keasyikannya pada komputer dan televisi harus saya batasi, supaya tidak obsesif," ujar Debbie.
Karena sekolahnya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, Ia pun kini mulai tekun mendalami kata-kata asing itu. Pantas saja ia bisa membawakan puisi itu dengan baik hingga kalimat terakhir.
For I am the child that needs to be loved.
And accepted and valued too
I am the child that is misunderstood
I am different - but look just like you
Joshua memang lahir dan tumbuh di tengah keluarga yang sangat mengasihinya. Dan apa pun adanya, ia selalu menjadi permata yang berharga dan membanggakan kedua orangtuanya. @ Endang Saptorini
Sumber: http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0308/14/140513.htm
Cerita Orang tua mengahadapi Autisme
Terimalah Kenyataan Jika Anak Mengalami Autisme Autisme, atau biasa disebut ASD (Autistic Spectrum Disorder), merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang kompleks dan sangat bervariasi. Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan kemampuan berimajinasi. Karena itu, cara penanganan anak autistik sedikit berbeda dibandingkan dengan cara penanganan anak pada umumnya, khususnya dalam bidang pendidikan. Kebanyakan anak autistik tidak bisa diterima di sekolah umum. Kalau pun bisa, mereka biasanya sulit menerima materi yang diberikan oleh sekolah reguler.
Dyah Puspita adalah salah seorang yang sangat konsisten dan persisten di dalam hal autisme. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini secara khusus mendalami bidang autisme setelah mengetahui putera tercintanya, Ikhsan Priatama Sulaiman, didiagnosa mengalami autisme.
Sejak tahun 2000, Ita – panggilan akrab Dyah - bersama dengan Adriana Ginanjar, mendirikan lembaga Mandiga khusus bagi anak autistik untuk bersekolah. Mandiga bertempat di sebuah rumah di Jalan Mulawarman No 3, Jakarta Selatan. Ini dimaksudkan agar anak-anak yang belajar di sana tidak merasa canggung dan merasa seperti di rumah sendiri. Di halaman tersedia beberapa mainan seperti trampolin dan perosotan. Jadi jika anak-anak sedang tidak ada kelas, mereka boleh bermain dengan bebas.
Materi yang diajarkan di Mandiga bukanlah ilmu eksak seperti yang biasa diajarkan di sekolah reguler. Anak-anak diberikan pengetahuan yang sekiranya perlu bagi mereka dan yang paling penting adalah mengajarkan sifat mandiri bagi anak-anak agar bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Salah satu sistem komunikasi yang dipelajari di Mandiga adalah PECS (Picture Exchange Communication System), yaitu komunikasi melalui gambar. Dengan PECS, anak autistik yang mengalami gangguan komunikasi verbal diajari makna dari sebuah gambar yang bisa berarti benda. Jika anak menginginkan sesuatu, ia tinggal memilih gambar yang sesuai untuk mendapatkan keinginannya. Namun, untuk sampai ke taraf pelajaran itu, dibutuhkan syarat-syarat tertentu yang menyangkut perkembangan pemahaman si anak.
Berdasarkan pengalamannya selama 17 tahun sebagai ibunda dari Ikhsan, Ita menuangkan kisahnya ke dalam tulisan. Januari lalu, bukunya yang kedua dengan judul Warna Warni Kehidupan, Ketika Anak Autistik Berkembang Remaja telah terbit. Buku yang hanya bisa didapatkan di Mandiga dan Yayasan Autisma Indonesia itu bahkan telah dicetak dua kali karena banyaknya peminat.
Ita menghabiskan waktu sekitar empat bulan untuk merampungkan naskahnya. Di dalam buku itu tergambar bagaimana ia mendampingi puteranya mengarungi masa remaja ditambah dengan beberapa kisah individu autistik lain di Indonesia. Dalam sela-sela waktu senggangnya, Ita menyempatkan diri untuk melakukan wawancara dengan Tabloid PasarInfo.com mengenai autisme. Ia berbagi banyak hal tentang autisme, pengalamannya menangani anak autistik, dan sistem pengajaran di Mandiga. Berikut adalah petikan wawancaranya:
Apa perbedaan antara sistem pendidikan di Mandiga dengan sekolah reguler?
Anak di sekolah reguler tidak diajari cara berkomunikasi, kalau anak autis harus. Anak sekolah reguler tidak perlu diajari cara gosok gigi, masak, dan berbelanja, kalau anak autis harus. Anak-anak ini, saya bantu agar nanti setelah selesai dari Mandiga pada saat berusia 16 tahun, mereka sudah harus bisa mengurus dirinya sendiri dan bisa mengkomunikasikan kemauannya. Kalau intelejensianya bagus, bisa baca tulis hitung. Syukur-syukur bisa menggunakan komputer. Seperti anak saya Ikhsan, dia sudah bisa baca tulis dan hitung, bisa menggunakan Microsoft Word hingga mem-print, sekarang sudah belajar Excel. Terus saya berpikir, kenapa nanti tidak sekalian belajar internet, Power Point, dan semacamnya. Jadi hal-hal seperti itu yang kita ajarkan.
Berapa usia Ikhsan saat ini?
Akhir Januari lalu, sudah 17 tahun. Sejak Juli dua tahun yang lalu, sudah tidak di Mandiga lagi. Dia masuk sejak Mandiga pertama kali dibuka, yaitu Februari tahun 2000. Waktu itu dia baru 9 tahun. Setelah 16 tahun, di-cut. Cut off-nya memang di usia segitu.
Ada batasan umur untuk belajar di Mandiga?
Betul. Jadi yang belajar di Mandiga itu usia 6 sampai 12 tahun. Setelah itu dievaluasi lagi. Bisa atau tidaknya anak itu mengikuti program lanjutan usia 12 - 16 tahun. Yang boleh ikut program lanjutan adalah anak yang perilakunya tertib, sudah ada komunikasi fungsional meskipun belum bisa bicara, dan secara akademis sudah bisa baca tulis hitung.
Kalau itu belum tercapai juga, umur 12 tahun akan di-cut. Kita harus bisa menerima fakta, bahwa tidak semua anak autis bisa belajar. Sebagian besar bisa dilatih, tetapi untuk mampu belajar tidak semua bisa. Sebenarnya tidak ada kata terlambat. Cuma memang, semakin usianya besar, semakin susah melatihnya.
Kenapa usia 12 menjadi penentu?
Karena setelah usia 12, mereka sudah banyak yang masuk ke masa puber. Kalau ada anak yang memiliki keterbatasan intelektual dan ditambah lagi mereka sudah puber, sementara di Mandiga itu semua gurunya rata-rata perempuan, maka akan sulit untuk melatih mereka. Jadi kami melihat keterbatasan kami untuk memberikan jasa kepada anak-anak dengan keadaan seperti itu.
Prinsip sekolah ini adalah menampung anak-anak yang tidak diterima di sekolah reguler, plus tidak memasang harga tinggi. Karena tidak memasang harga tinggi, otomatis pemasukan terbatas sehingga kami tidak bisa menambah guru lebih banyak lagi.
Ada perubahan perilaku saat memasuki masa puber?
Sangat. Terutama kalau anak itu tidak mampu bernalar dan tidak bisa berkomunikasi, maka anak itu akan lebih sering marah dan mengamuk. Dan yang menyulitkan, karena anak sudah besar, jadi akan susah untuk memegangnya.
Jadi sebisa mungkin seorang anak autis harus dilatih emosinya dari usia dini?
Kalau menurut saya, itu sangat tergantung dari orang tuanya. Kalau orang tuanya mau bekerja sama dengan saya supaya anak ini perilakunya jadi lebih baik, biasanya berhasil. Tetapi kalau orangtuanya lepas tangan dan menyerahkan semuanya kepada kita, biasanya anak itu malah tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena di sekolah hanya empat jam, sisanya di rumah. Harusnya latihan lebih banyak di rumah. Tetapi kalau di rumah anak itu dilepaskan kepada pembantu dan apa saja diperbolehkan, yang empat jam di sekolah akan menjadi sia-sia. Saya selalu menekankan kepada guru dan orang tua, saya akan berusaha supaya di sekolah tertib. Di luar sekolah tertib atau tidak, tergantung dari orangtua. Jika orangtua mengambil apa yang saya lakukan dan menerapkannya di rumah, maka di mana-mana anak itu akan tertib. Anak saya, Ikhsan, di mana-mana bisa diberi tahu, karena dari kecil sudah dibiasakan disiplin.
Bentuk disiplinnya seperti apa?
Biasa sebetulnya. Disiplinnya juga berlaku untuk anak sekolah reguler. Aturan itu harus jelas. Misalnya, kalau tidak boleh melakukan ini, anak itu harus menurut. Kalau ia melanggar peraturan tersebut, maka akan ada konsekuensinya.
Apa betul ada pengaruh dari makanan tertentu kepada anak autis?
Tentang makanan, banyak dokter yang mengatakan itu ilmu yang belum terbukti, meskipun di luar negeri sudah banyak penelitiannya. Kalau di sini belum banyak dilakukan peneltian. Mungkin karena autisme itu bukan penyakit dan bukan sesuatu yang mematikan. Jadi prioritas penelitiannya mengantri di belakang flu burung, kanker, dan sebagainya.
Saya selalu menjelaskan kepada orangtua, karena di luar negeri sekian persen dari penelitian menjelaskan bahwa anak autis metabolismenya terganggu, terutama dari asupan tepung terigu, atau apa pun yang mengandung susu dan gula, biasanya saya minta orang tua untuk eksperimen saja. Susu bisa digantikan dengan kalsium dari tablet kalsium murni, jadi tidak masalah. Misalnya anak saya, dia suka biskuit. Saya gantikan dengan macam-macam makanan kering yang tidak mengandung terigu, misalnya rengginang yang terbuat dari tepung beras. Kan sama saja, kriuk-kriuk juga.
Saya memperhatikan, kalau makanan anak autis lebih dijaga, maka kemampuan otaknya akan lebih responsif, lebih fokus, dan lebih tek-tok (timbal balik). Kalau anak itu makan makanan yang racun bagi dia, (tepung terigu, gula, susu, MSG, dan sebagainya) anak itu jadinya seperti morfinis. Karena teori dari penelitian tadi, metabolisme anak autis teganggu. Sehingga tidak semua zat makanan bisa tercerna. Sebagian menembus barrier di otak, efeknya sama seperti morfin. Sekarang kalau setiap hari si anak makan makanan yang berbahaya untuknya, anak akan kesulitan untuk nalar dan memahami instruksi. Kita ajak berbicara pun mungkin dia tidak ngeh.
Sulitkah untuk menjaga makanan mereka?
Perjuangan awal sulit. Sama seperti misalnya pencandu morfinis yang ingin sembuh. Mereka akan mengalami sakaw. Jadi keinginan untuk sembuhnya itu harus dari diri sendiri. Tuhan maha adil, jika anak-anak ini selama 6 bulan kita jaga makanannya, lalu tiba-tiba bocor sedikit, mereka akan merasa bahwa makanan tertentu tidak bagus untuk mereka. Persoalannya, untuk sampai bertahan selama 6 bulan, biasanya orang tua akan mengalami kesulitan. Sehingga anak itu tidak sampai merasakan efek negatif jika mengkonsumsi makanan tertentu.
Makanan alternatif untuk mereka seperti apa?
Negara ini gemah ripah loh jenawi. Jika tidak mau nasi, bisa digantikan dengan bihun, kwetiau, jagung, singkong, kentang, dan lain-lain. Itu saja yang divariasikan dalam makanan sehari-harinya.
Apakah anak autis lebih tidak bisa mengontrol emosi?
Kalau masalah emosi bukan bagian dari autisme. Ada tiga masalah utama dari autisme, yaitu gangguan perilaku, gangguan interaksi, dan gangguan komunikasi. Gangguan dalam komunikasi misalnya seperti ini: kamu bisa berbicara, tetapi orang tidak mengerti yang kamu bicarakan. Atau, lebih parah lagi, kamu tidak bisa berbicara. Orang lain tentunya tidak akan mengerti apa yang kamu inginkan. Tidak enak kan rasanya? Cara paling primitif apa? Teriak.
Orangtua harus mencari penyebab kenapa anak teriak, apakah penyebabnya karena jatuh? Atau karena minta sesuatu? Orang tua harus berpikir, kalau anak itu teriak karena minta sesuatu dan diberikan pasti si anak teriak lagi bila menginginkan sesuatu. Lalu bagaimana supaya anak itu tidak teriak jika minta sesuatu? Ajari cara berkomunikasi yang baik.
Komunikasi tidak harus selalu dengan berbicara. Orang tua sering tidak siap dengan kenyataan ini. Jika saya memperlihatkan cara Ikhsan berkomunikasi dengan mengetik, menulis, menunjuk, dan SMS kepada orangtua murid, mereka selalu berkomentar: "Ibu sih tidak memaksa anaknya untuk ngomong." Ya memang tidak bisa berbicara, terus mau bagaimana lagi?
Kita kan tidak tahu apa yang terjadi di dalam pikiran anak-anak itu. Jadi, teriak dan emosinya itu karena apa? Itu yang harus dicari. Tidak semua anak autis seperti itu, tetapi bisa menjadi seperti itu bila dari kecil dibiasakan mendapatkan sesuatu jika ia teriak-teriak.
Jadi masalah utama yang dialami oleh anak autis adalah karena kesulitan untuk berkomunikasi?
Betul. Saya harus mendidik orangtuanya mulai dari nol, karena faham seperti itu belum ada. Bahwa komunikasi itu tidak melulu harus melalui bicara. Biasanya hal pertama yang dilakukan oleh orangtua ketika menyadari anaknya tidak bisa berkomunikasi adalah mengajarinya terapi wicara. Sekarang logikanya begini, anak itu diajari untuk bilang ’bola’ tetapi tidak tahu bola itu yang mana. Kamu diajari bahasa Rusia, bahasa Perancis, tetapi tidak mengerti artinya. Akhirnya tidak akan berguna kan?
Metode komunikasi seperti apa yang diajarkan kepada Ikhsan?
Ikhsan sejak usia tiga tahun sampai 10 tahun diajari terapi wicara, tetapi perkembangannya tidak begitu bagus. Setelah pemahamannya semakin baik, ia saya ajari PECS. sistem komunikasi dari Amerika. Cara komunikasinya adalah dengan tukar menukar gambar. Dia diajari makna bahwa gambar ini bisa berarti benda. Jadi kalau kamu mau benda yang itu, kamu harus mengambil gambar yang sesuai. Kemudian berkembang lagi. Setelah dia paham tulisan, di gambar itu diberi tulisannya. Kemudian gambar itu menjadi semakin kecil, lalu lama-lama hanya tinggal tulisannya saja.
Terkadang tulisannya jelek, dan kalau belajar lagi dari awal sulit. Ikhsan bisa menggunakan keyboard. Lalu saya mengembangkan cara lagi, saya belikan dia organizer kecil, saya ajari mengetik, akhirnya berhasil. Setelah belajar mengetik, tahapannya maju lagi, yaitu dengan SMS. Prinsipnya kan sama, cuma dia harus mengenali cara mencari nama dan dikirim ke siapa. Begitu dia merasa dengan cara itu dia bisa mendapatkan sesuatu, dia merasa hal itu ada gunanya. Sekarang, di rumah dia pakai semua cara.
Semua metode-metode itu diterapkan juga di Mandiga?
Iya. Prinsip saya sederhana. Semua anak adalah tanggung jawab orangtuanya. Jadi saya selalu kasih ide kepada orang tua. Jika kemampuan verbal anaknya terbatas, saya menawarkan agar anaknya diajari organizer atau PECS. Kalau anak itu bisa menggunakannya di sekolah, tinggal mentransfer ke rumah. Kalau orang tua yang mengerti faedahnya, mereka akan minta informasi kepada kami. Di sini kami sangat terbuka. Kami akan terangkan semua cara-caranya, kalau perlu divideokan.
Orangtua biasanya menolak karena takut anaknya tidak bisa berbicara. Hasilnya adalah anaknya marah-marah terus. Akhirnya terpaksa anak itu harus keluar dari sekolah karena kami kewalahan. Jadi semuanya itu bergantung dari orangtua. Saya tidak mau ambil tanggung jawab itu dari mereka.
Jadi perkembangan anak tergantung dari orang tua?
Kalau bisa menerima anak kita mengalami masalah, kita akan mencari solusi dari masalah itu. Masalahnya, orangtua mau menerima atau tidak? Menerima nggak jika anaknya autis? Menerima nggak jika anak autis itu mempunyai masalah komunikasi seumur hidup? Kalau dia punya masalah komunikasi, bantu dong. Ada banyak solusi lain, mulai dari makanan, edukasi, hingga pekerjaan di masa depan. Kalau dari awalnya tidak mau nerima, ya susah.
Biodata:
Nama: Dyah Puspita Asih
Hobi: baca, travelling, menulis, dan menonton.
Blog: dyahpuspita.wordpress.com
Jabatan:
- Penanggung Jawab Pendidikan Sekolah Mandiga
- Aktif di Yayasan Autisma Indonesia
- Aktif bertindak sebagai konsultan pada beberapa tempat terapi dan sekolah di Jakarta, Bandung, Medan, Makasar, dan Pontianak
Sumber: http://www.pasarinfo.com/infotokoh.php?designby=noOneElse+Fbdesign@urmind.com&levelku=penggunan&myIDentity=&Mylog=close&escape=&fortune=&myedisi=836&myid=46
Terapi dengan Musik
Terapi musik pada penderita autis membawa anak ke dalam situasi yang menenangkan yang memberikannya kesempatan mengembangkan dan mempersiapkan diri mempelajari hal lain. Terapi ini menjadi produktif karena lebih mengarah ke suatu bentuk bermain yang rileks serta dapat mengurangi stress.
Menyeimbangkan Otak Kiri-Kanan
Musik bukan obat. Musik merangsang perkembangan belahan otak kiri dan kanan. Musik meningkatkan kemampuan kerja otak. Musik dalam kekuatan alaminya memperbaiki proses komunikasi dan interaksi dengan orang lain. Selain itu juga meningkatkan kemandirian dalam berbicara, berbahasa, kemampuan fisik, sosial, mengambil sikap dan mandiri serta pengekspresian diri.
Anak autis mengalami hambatan di dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial. Melihat pengaruh musik menyeimbangkan perkembangan belahan kiri dan kanan otak, maka terapi musik memberikan anak-anak autis suatu jalan untuk mampu mengekspresikan dirinya.
Bunyi yang dikeluarkan waktu menekan tuts piano menyebabkan perhatiannya terpusat. Tekanan tangannya menimbulkan bunyi. Bunyi tuts piano menyebabkan ia tenang, sedangkan jari-jarinya yang menyentuh tuts piano dapat mengeluarkan bunyi, merangsang keingintahuan anak sehingga ia ingin mencoba dan mencoba. Ekspresi yang muncul dalam kesenangan dan kepuasan karena berhasil memunculkan bunyi itu merangsang memori verbal berfungsi dengan baik. Dengan adanya rangsangan orang yang ada disekitarnya yang menambah perbendaharaan kata, menyebabkan anak bisa dengan teratur menyampaikan pikirannya melalui kata-kata. Kemampuan anak tidak hanya melulu dari mengetuk tuts piano, tetapi secara menyeluruh dari rangsangan yang ada disekitarnya.
Ia menjadi lebih tenang karena merasa nyaman dengan nada, irama, dan tekanan bunyi musik yang dibunyikannya karena dasarnya telah pernah ia dengarkan, rasakan dan pelajari waktu ia di dalam kandungan ibunya. Aliran darah ibunya memperdengarkan bunyi musik membuat ia memusatkan perhatian. Aliran darah itu dipengaruhi oleh emosi dan pikirannya yang merangsang janin itu untuk bereaksi. Ini adalah pembelajaran pertama dari janin untuk bereaksi terhadap rangsangan di luar dirinya di dalam kandungan ibunya. Janin di dalam kandungan belajar dan menyimpan memorinya sebagai dasar di dalam memahami kehidupan berikutnya setelah ia lahir.
Semua anak mempunyai keinginan untuk mencoba. Jika pada saat mencoba tidak ada hambatan, maka ia akan terus mencoba, ia mempunyai kesenangan dan perhatiannya terus tertuju untuk bisa menimbulkan bunyi. Kesempatan tersebut membuatnya senang, sekaligus memberikan keluasan dan tanpa sadar ia mapu mengekspresikan emosinya ia bisa tersenyum bahkan tertawa. Perasaan ini merangsang zat-zat kimia otaknya. Kepuasan dan kebahagiaan anak merangsang seluruh tubuhnya, sehingga motorik anak itu bereaksi. Otot-otot tubuhnya bersama-sama emosinya aktif .
Secara khusus, ketenangan dari ritme, dan berbagai kemungkinan harmonisasi nada, tersalurkan oleh rentangan nada yang luas dari kemampuan perkusi serta sustain dari piano merupakan elemen yang memberikan respons terapeulitik terhadap klien. Dalam keadaan ini berbunyi harmonis, frekuensi rendah, dan monoton membawa anak ke dalam keadaan meditasi. Ia terlatih untuk memusatkan perhatian. Ia terlatih untuk bereaksi dengan rangsangan, tidak hanya dengan satu rangsangan, tetapi beberapa rangsangan yang datang dari luar. Disamping itu bunyi ini juga bisa menghantarkan ia berada dalam keadaan relaksasi sehingga bisa membawa anak itu istirahat dan tidur nyenyak. Tidur nyenyak merupakan hal penting dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak.
sumber:
http://www.suryani-institute.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=60&mode=thread&order=0&thold=0
Terapi dengan Lumba-Lumba

TIGA TAHUN lalu, Helen (28) sedih mendapati M. Arief Sofyan, anaknya yang ketika itu berusia 2 tahun, selalu tidak merespon bila dipanggil. Arief selalu menyendiri, tidak mau berbicara, padahal di rumah tidak mau diam alias hiperaktif.
Dari analisis pengobatan medis, diketahui Arief menyandang gangguan autisme. Helen tentu harus memberikan perhatian khusus pada buah hatinya itu. Ibu tiga anak ini memasukkan Arief di sekolah untuk anak dengan kebutuhan khusus, memberikan asupan yang tepat, juga menghadiri berbagai seminar tentang autisme guna menambah pengetahuan dalam mendidik Arief.
Beruntung, lewat Endang Sumaryati, dari Kompartemen Sarjana Fisioterapi 99 dan berpraktik di Klinik Dolphin, Helen mengenal Klinik Dolphin yang berada di Balai Samudera Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta Utara. Helen menambah terapi bagi Arief, yakni bermain bersama lumba-lumba di Gelanggang Samudera (GSA) TIJA, tanpa meninggalkan terapi-terapi sebelumnya.
“Saya sudah mengajak Arief terapi dengan lumba-lumba ini sebanyak 23 kali. Semula tiap hari sekali selama sepuluh hari berturut-turut, kini seminggu dua kali. Hasilnya seperti yang Anda lihat, Arief sudah mampu berinteraksi dengan pelatih lumba-lumba, terapis, dan orang lain. Ia juga sudah bisa berkonsentrasi penuh,” tutur Helen.
Gangguan Perkembangan
Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks, disebabkan adanya kerusakan pada otak. Anak mengalami gangguan seputar perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan bersosialisasi, dan lain-lain.
Anak dengan gangguan autis dikenal sebagai pribadi yang tak mampu berkomunikasi dengan orang terdekat sekalipun. Anak autis juga tak mampu mengekspresikan perasaan dan keinginannya, seringkali tertawa atau menangis sendiri.
Meski secara fisik tak bercela, ciri yang menonjol pada anak autis adalah sulit berbicara. Hingga kini, gangguan ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, serangkaian terapi telah banyak dilakukan orang, misalnya metode ABA (applied behavioral analysis), hidrotermal, hidromekanik, dan hidrokemis.
Metode yang kini sedang tren adalah terapi lumba-lumba (dolphin therapy). Menurut Endang, lumba-lumba adalah makhluk ajaib. Hewan ini sudah dikenal manusia selama berabad-abad lamanya.
Bangsa Yunani Kuno misalnya, menamakannya sebagai konstelasi bintang, delphinus, atau lumba-lumba. Bangsa Romawi kuno mempercayainya sebagai simbol cinta sejati, persahabatan, dan harmoni.
Dr. Ken Marten, ilmuwan di Earthtrust, Hawaii, Amerika Serikat, mengatakan bahwa lumba-lumba mampu berenang dengan kecepatan lebih dari 40 km per jam. Hewan ini mampu mengirimkan serangkaian sinyal ultrasonik untuk mendeteksi keberadaan benda di sekitarnya. Lumba-lumba juga senang bermain-main. Otaknya yang lebih besar dari simpanse atau kera, membuatnya tergolong binatang cerdas.
Kegemaran bermain memudahkan hewan menyusui ini akrab dengan manusia. Cerita seputar hubungan manusia dengan lumba-lumba juga pernah difilmkan, misalnya dalam Flipper, yang dibintangi Paul Hogan dan Elijah Wood. Kepandaian lumba-lumba berinteraksi dengan manusia dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan sebagai terapi pengobatan. Stimulasi-stimulasi yang dilakukan lumba-lumba pada panca indra memungkinkan dicapainya kesembuhan bagi manusia.
“Suara lumba-lumba membuat rileks dan perasaan menjadi lebih tenang. Sentuhannya merangsang saraf sensoris, pendengaran, penglihatan, dan konsentrasi anak. Setelah bermain dengan lumba-lumba, anak menjadi lebih konsentrasi, sehingga memacu semangat belajar. Klinik Dolphin TIJA saat ini mengkhususkan terapi untuk anak dengan kebutuhan khusus,” ujar Endang, yang juga fisioterapis di RS Islam Jakarta.
Program 10 Hari
Pasien-pasien yang datang, menurut Endang, biasanya sudah keluar masuk sekolah-sekolah autis atau pernah melakukan terapi lain. Terapi lumba-lumba di Klinik Dolpin dilakukan secara bertahap.
Setelah diketahui hasil rekan mediknya, pasien diwajibkan datang sepuluh hari berturut-turut. Hari pertama hingga ketiga diisi dengan pengenalan situasi dan lumba-lumbanya itu sendiri. Pasien belum diizinkan untuk turun ke kolam. “Mereka hanya boleh bermain air dan sesekali memegang tubuh lumba-lumba dari pinggir kolam,” paparnya.
Pada hari keempat hingga kesepuluh, pasien diajak bermain dengan seekor lumba-lumba, melibatkan seorang terapis dan pelatih hewan mamalia ini. Lumba-lumba GSA yang dijadikan media terapi jumlahnya tiga ekor, namanya Mia, Pauline, dan Rina. Permainan yang dilakukan antara lain berenang bersama, duduk di punggung, atau memberi ikan kecil kepada lumba-lumba.
Setelah sepuluh hari terapi, perkembangan pasien dievaluasi. Dari hasil itulah, bisa diketahui rencana terapi ke depan, sekaligus jenisnya atau interaksi lanjutan. Dari pengalaman Endang, program pertama selama sepuluh hari tersebut memberikan hasil positif bagi pasien-pasiennya. Banyak anak autis yang mampu berkonsentrasi dan bisa diajak bicara.
Banyak penderita gangguan autis merasakan manfaat terapi lumba-lumba di Klinik Dolphin yang bekerja sama dengan Gelanggang Samudera Ancol ini. Tak kurang pasien dari Bandung, Tegal, Semarang, dan Jayapura pernah mendapat manfaatnya.
Endang tak mau menyebutkan harga terapi ini. Ia hanya menganjurkan calon pasien untuk mengikuti sistem keanggotaan, sehingga harganya relatif murah. Sebab, sudah termasuk uang pangkal, pendaftaran, dan potongan tiket tanda masuk ke TIJA dan GSA.
Kenapa Lumba-Lumba?
Di Amerika Serikat, penyembuhan menggunakan lumba-lumba untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus, sudah tidak asing lagi. Kata Dr. Erwin Kusuma SpKJ, dari Klinik Prorevital, Jakarta, sejak tahun 1978, metode penyembuhan dengan hewan ini sudah dikembangkan DR. David Nathanson, Ph.D, psikolog yang telah menggeluti dunia lumba-lumba lebih dari 30 tahun.
DR. Nathanson mengamati dan meneliti ketika manusia dan lumba-lumba saling berinteraksi. Psikolog yang membuka terapi di Ocean World, Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat itu mulanya menstimulasi panca indra anak-anak yang mengalami down syndrome atau keterbelakangan mental degan mengajak mereka bermain dan berenang bersama lumba-lumba.
Hasilnya, anak-anak tersebut mampu menerima stimulasi dan mulai memberi perhatian. Dalam perkembangannya, lumba-lumba tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak down syndrome atau autis saja, juga untuk orang dewasa yang mengalami gangguan mental dan sensor saraf indra.
Kenapa lumba-lumba? Lumba-lumba bisa dijadikan sarana terapi karena mampu berinteraksi dengan manusia. Hasil penelitian Vilchis Quiroz dari Medical Director Aragon Aquarium, Mexico City, Meksiko, ketika berinteraksi dengan lumba-lumba, hormon endorfin pada manusia meningkat. Hal ini membuat terbentuknya keseimbangan antara otak kiri dan kanan. Gelombang ultrasonik, hasil stimulasi suara-suara atau sonar yang dikeluarkan lumba-lumba, mampu diterima sempurna oleh manusia.
Sumber: banjarmasinpost.co.id
Applied Behavior Analysis (ABA)
Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan.
Secara lebih teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai A-B-C; yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti dengan C (consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis. Melalui gaya pengajarannya yang terstruktur, anak autis kemudian memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan olehnya sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku tersebut diharapkan cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence (konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan.
Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Terapi ini umumnya mendapatkan hasil yang signifikan bila dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.
Sumber: http://youthshineacademy.blogspot.com/2007/05/applied-behavior-analysis-aba.html
Terapi Visual
Penyandang autis lebih bisa memahami informasi yang diterima dalam bentuk gambar dibandingkan dengan bahasa lisan ataupun tulisan, oleh karena itu dalam mengajar mereka dibutuhkan tatalaksana khusus. Duapuluh persen dari penyandang autisme tidak akan bicara, bagi mereka dapat diajarkan ketrampilan komunikasi dengan cara lain, yaitu
gambar-gambar atau Picture Exchange Communication (PEC) atau Computer Pictograph for Communication (COMPIC) atau Communication Through Picture. Gambar-gambar tersebut dapat disusun di papan komunikasi manual ataupun melalui komputer. Secara umum anak autis memiliki kemampuan yang menonjol di bidang visual. Mereka lebih mudah untuk mengingat dan belajar, bila diperlihatkan gambar atau tulisan dari benda-benda, kejadian, tingka llaku maupun konsep-konsep abstrak. Dengan melihat gambar atau tulisan, anak autis akan membentuk gambaran mental atau mental image yang jelas dan relatif permanen dalam benaknya. Bila materi tersebut hanya diucapkan saja mereka akan mudah melupakannya karena daya ingat mereka amat terbatas. Karena itu dalam melakukan terapi digunakan sebanyak mungkin kartu-kartu bergambar dan alat bantu visual lain untuk membantu mereka mengingat, hal ini juga berlaku untuk anak autis yang hanya mengalami gangguan di bidang verbal. Untuk melatih penderita agar bisa berkomunikasi, kita harus menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi mereka. Orang tua dan pendidik bisa menggunakan ekspresi wajah, gerak isyarat, mengubah nada suara, menunjuk gambar, menunjuk tulisan, menggunakan papan komunikasi dan menggunakan simbol-simbol. Cara-cara tersebut tidak hanya digunakan secara tersendiri, tetapi juga dapat digabungkan sehingga membentuk pesan yang lebih kuat. Cara-cara tersebut diatas, dapat diintegrasikan dengan menggunakan teknologi multimedia interaktif. Karakter sebuah aplikasi multimedia interaktif adalah gabungan dua atau lebih dari beberapa media, yang dapat diakses secara interaktif, sehingga membentuk sebuah efek komunikasi yang kuat. Sebuah studi yang dilakukan oleh Software Publisher Association (SPA) tentang keefektifan penggunaan teknologi menunjukkan manusia mendapat 80 persen pengetahuan dari melihat, tetapi hanya 11 persen yang teringat. Persentase ini lebih kecil melalui pendengaran tetapi hasil yang diingat lebih tinggi. Kombinasi keduanya akan sangat efektif dan menaikkan daya ingat hingga 50 persen. Dengan demikian aplikasi multimedia merupakan sarana yang tepat untuk pendidikan.
Sumber: http://images.dartz.multiply.com/attachment/0/SDV21QoKCr0AAGFEzKU1/RANCANGAN%20KOMUNIKASI%20VISUAL.pdf?nmid=97313302
Terapi bermain
Sebagian besar teknik terapi bermain yang dilaporkan dalam literatur menggunakan basis pendekatan psikodinamika atau sudut pandang analitis. Hal ini sangat menarik karena pendekatan ini secara tradisional dianggap membutuhkan komunikasi verbal yang tinggi, sementara populasi autistik tidak dapat berkomunikasi secara verbal.
Namun terdapat juga beberapa hasil penelitian yang menunjukkan penggunaan terapi bermain pada penyandang autisme dengan berdasar pada pendekatan perilakuan (Landreth, 2001). Salah satu contoh penerapan terapi bermain yang menggunakan pendekatan perilakuan adalah The ETHOS Play Session dari Bryna Siegel (Schaefer, Gitlin, & Sandgrund, 1991).
Terdapat beberapa contoh penerapan terapi bermain bagi anak-anak autistik, diantaranya adalah (Landreth, 2001):
1. Terapi yang dilakukan Bromfield terhadap seorang penyandang autisme yang dapat berfungsi secara baik. Fokus terapinya untuk dapat masuk ke dunia anak agar dapat memahami pembicaraan dan perilaku anak yang membingungkan dan kadang tidak diketahui maknanya. Bromfield mencoba menirukan perilaku obsessif anak untuk mencium/membaui semua objek yang ditemui menggunakan suatu boneka yang juga mencium-cium benda. Apa yang dilakukan Bromfield dan yang dikatakannya ternyata dapat menarik perhatian anak tersebut. Bromfield berhasil menjalin komunikasi lanjutan dengan anak tersebut menggunakan alat-alat bermain lain seperti boneka, catatan-catatan kecil, dan telepon mainan. Setelah proses terapi yang berjalan 3 tahun, si anak dapat berkomunikasi secara lebih sering dan langsung.
2. Lower & Lanyado juga menerapkan terapi bermain yang menggunakan pemaknaan sebagai teknik utama. Mereka berusaha masuk ke dunia anak dengan memaknai bahasa tubuh dan tanda-tanda dari anak, seperti gerakan menunjuk. Tidak ada penjelasan detil tentang teknik mereka namun dikatakan bahwa mereka kurang berhasil dengan teknik ini.
3. Wolfberg & Schuler menyarankan penggunaan terapi bermain kelompok bagi anak-anak autistik dan menekankan pentingnya integrasi kelompok yang lebih banyak memasukkan anak-anak dengan kemampuan sosial yan tinggi. Jadi mereka memasangkan anak-anak autistik dengan anak-anak normal dan secara hati-hati memilih alat bermain dan jenis permainan yang dapat memfasilitasi proses bermain dan interaksi di antara mereka. Fasilitator dewasa hanya berperan sebagai pendukung dan mendorong terjadinya proses interaksi yang tepat.
4. Mundschenk & Sasso juga menggunakan terapi bermain kelompok ini. Mereka melatih anak-anak non-autistik untuk berinteraksi dengan anak-anak autistik dalam kelompok.
5. Voyat mendeskripsikan pendekatan multi disiplin dalam penggunaan terapi bermain bagi anak autisme, yaitu dengan menggabungkan terapi bermain dengan pendidikan khusus dan melatih ketrampilan mengurus diri sendiri.
EFEKTIVITAS TERAPI BERMAIN BAGI PENYANDANG AUTISME
Efektivitas penggunaan terapi bermain masih cukup sulit diketahui karena sampai saat ini kebanyakan literatur masih memaparkan hasil kasus per kasus. Namun Bromfield, Lanyado, & Lowery menyatakan bahwa klien mereka menunjukkan peningkatan dalam bidang perkembangan bahasa, interaksi sosial, dan berkurangnya perilaku stereotip, setelah proses terapi. Mereka dikatakan juga dapat mentransfer ketrampilan ini di luar seting bermain.
Wolfberg & Schuler menyatakan bahwa model terapi bermain yang terintegrasi dalam kelompok juga dapat berhasil, dimana program ini ditujukan untuk meningkatkan interaksi sosial dan melatih ketrampilan bermain simbolik. Mundschenk & Sasso juga melaporkan hal yang sama.
PRINSIP-PRINSIP PENERAPAN TERAPI BERMAIN BAGI ANAK AUTISTIK
Terdapat beberapa hal prinsip yang harus dipahami terapis sebelum menerapkan terapi bermain bagi anak-anak autistik, yaitu:
1. Terapis harus belajar “bahasa” yang diekspresikan kliennya agar dapat lebih membantu. Karena itu metode yang disarankan adalah terapi yang berpusat pada klien.
2. Harus disadari bahwa terapi pada populasi ini prosesnya lama dan sangat sulit sehingga membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi. Apa yang kita latihkan bagi anak normal dalam waktu beberapa jam mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun pada anak autistik. Kondisi ini kadang membuat terapis bosan dan putus asa.
3. Terapis harus menghindari memandang isolasi diri anak sebagai penolakan diri dan tidak memaksa anak untuk menjalin hubungan sampai anak betul-betul siap.
4. Terapis juga harus betul-betul sadar bahwa meskipun anak autistik dapat mengalami kemajuan dalam terapi yang diberikan, ketrampilan sosial dan bermain mereka mungkin tidak akan bisa betul-betul normal. Jika tujuan umum terapi adalah untuk membantu anak dapat memaksimalkan potensi mereka dan memberi mereka kesempatan untuk berfungsi lebih baik dalam hidup mereka, maka keberhasilan sekecil apapun harus dianggap sebagai kemenangan dan harus disyukuri sepenuh hati.
Berdasarkan luasnya batasan terapi bermain maka penerapannya bagi penyandang autisme memerlukan batasan-batasan yang lebih spesifik, disesuaikan dengan karakteristik penyandang autisme sendiri. Pada anak penyandang autisme, terapi bermain dapat dilakukan untuk membantu mengembangkan ketrampilan sosial, menumbuhkan kesadaran akan keberadaan orang lain dan lingkungan sosialnya, mengembangkan ketrampilan bicara, mengurangi perilaku stereotip, dan mengendalikan agresivitas.
Berbeda dengan anak-anak non autistik yang secara mudah dapat mempelajari dunia sekitarnya dan meniru apa yang dilihatnya, maka anak-anak autistik memiliki hambatan dalam meniru dan ketrampilan bermainnya kurang variatif. Hal ini menjadikan penerapan terapi bermain bagi anak autisme perlu sedikit berbeda dengan pada kasus yang lain, misalnya:
1. Tujuan dan target setiap sesi terapi bermain harus spesifik berdasarkan kondisi dan ketrampilan anak, dilakukan dengan bertahap dan terstruktur . Misalnya pada penyandang autisme yang belum terbentuk kontak mata, maka mungkin tujuan terapi bermain dapat diarahkan untuk membentuk kontak mata. Permainan yang dapat dipilih misalnya ci luk ba, lempar tangkap dengan bantuan, ‘lihat ini’, dan lain-lain.
2. Jika secara umum terapi bermain memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan eksplorasi, maka pada anak autisme hal ini akan memerlukan usaha yang lebih keras dari terapis terutama jika anak belum memiliki kesadaran akan dirinya dan dunia sekitarnya sehingga inisiatif belum muncul. Pada kasus seperti ini maka terapis perlu lebih aktif menarik anak untuk masuk dalam forum bermain dengan secara aktif menunjukkan contoh dan menarik anak terlibat. Misalnya dengan menunjuk masing-masing alat bermain yang ada sambil menyebutkan namanya, memberi contoh bagaimana alat bermain itu digunakan, terapis bermain pura-pura dengan tetap berusaha menarik anak terlibat.
3. Jika kesadaran diri dan dunia sekitarnya sudah muncul , maka anak dapat diberikan target yang lebih tinggi misalnya melatih ketrampilan verbal (berbicara) dan ketrampilan sosial. Pada tahap ini maka pelibatan anak dalam forum yang lebih besar, dengan melibatkan anak-anak sebaya lain mungkin lebih membantu. Misalnya anak diajak bernyanyi bersama, dibacakan cerita bersama anak-anak lain, diajak berbicara, dan permainan lainnya.
4. Terapi bermain bagi penyandang autisme dapat ditujukan untuk meminimalkan/menghilangkan perilaku agresif, perilaku menyakiti diri sendiri, dan menghilangkan perilaku stereotip yang tidak bermanfaat. Hal ini dapat dilakukan dengan melatihkan gerakan-gerakan tertentu kepada anak, misalnya tepuk tangan, merentangkan tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, dan alat bermain yang lain. Dengan mengenalkan gerakan yang lain dan berbagai alat bermain yang dapat digunakan maka diharapkan dapat digunakan untuk mengalihkan agresivitas yang muncul, juga jika anak sering menyakiti diri sendiri. Mengenalkan anak pada permainan konstruktif seperti menyusun balok juga akan memberi kegiatan lain sehingga diharapkan perilaku stereotip yang tidak bermanfaat dapat diminimalkan.
Demikian beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam terapi bermain bagi penyandang autisme. Namun, disamping beberapa hal tersebut terdapat beberapa hal prinsip yang juga harus diperhatikan, yaitu:
1. Terapi bagi anak penyandang autisme tidak dapat dilakukan hanya dengan terapi tunggal. Mengingat bahwa spektrum hambatan yang dialami anak autism sangat luas dan kompleks, maka terapi bermain sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan terapi yang lain, misalnya terapi wicara, terapi medis, dan lain-lain. Rencana program terapi yang dijalankan pun harus disusun dengan terpadu dan terstruktur dengan baik, begitu juga proses evaluasinya.
2. Terapi bermain ini harus dilakukan oleh tenaga terapis yang sudah terlatih dan betul-betul mencintai dunia anak dan pekerjaannya. Hal ini terlebih pada penyandang autisme karena menangani anak autisme memerlukan kesabaran dan keteguhan hati yang tinggi. Jika pada anak non autistik target perubahan perilaku yang dibuat mungkin dapat dicapai dengan cepat dan lebih mudah, maka bagi penyandang autisme belajar perilaku baru memerlukan usaha dan perjuangan yang sangat keras dan belum tentu berhasil memuaskan.
3. Keberhasilan program terapi bermain sangat ditentukan oleh bagus tidaknya kerja sama terapis dengan orang tua dan orang-orang lain yang terlibat dalam pengasuhan anak sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan proses transfer ketrampilan yang sudah diperoleh selama terapi yang harus terus dipelihara dan ditingkatkan dalam kehidupan di luar program terapi.
Demikianlah beberapa hal yang menurut saya penting diketahui tentang penerapan terapi bermain bagi anak penyandang autisme. Sekali lagi, harus dicatat bahwa terapi bermain adalah salah satu alternatif saja diantara sekian banyak program terapi yang sudah dikembangkan bagi anak autisme. Masukan dan kritik bagi makalah ini sangat diharapkan demi proses belajar saya dan perbaikan ke depan. Terima kasih.
Sumber: http://www.liputankita.com/artikel-liputankita/penerapan-terapi-bermain-bagi-penyandang-autisme-berita-liputankita.html
Integrasi sensorik
Disfungsi dari integrasi sensoris atau disebut juga disintegrasi sensoris berarti ketidak mampuan untuk mengolah rangsang sensoris yang diterima.
Gejala adanya disintegrasi sensoris bisa tampak dari : pengendalian sikap tubuh, motorik halus, dan motorik kasar. Adanya gangguan dalam ketrampilan persepsi , kognitif, psikososial, dan mengolah rangsang.
Namun semua gejala ini ada juga pada anak dengan diagnosa yang berbeda, misalnya anak dengan ASD. Diagnosa disintegrasi sensoris tidak boleh ditegakkan kalau ada tanda-tanda gangguan pada Susunan Saraf pusat.
Terapi integrasi sensoris :
Aktivitas fisik yang terarah, bisa menimbulkan respons yang adaptif yang makin kompleks. Dengan demikian efisiensi otak makin meningkat.
Terapi integrasi sensoris meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga ia lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya.
Aktivitas integrasi sensoris merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks , dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.
Sumber: http://www.autisme.or.id/terapi/integrasi_sensori/
Terapi Biomedik
Yang sering ditemukan adalah adanya multiple food allergy, gangguan pencernaan, peradangan dinding usus, adanya exomorphin dalam otak (yang terjadi dari casein dan gluten), gangguan keseimbangan mineral tubuh, dan keracunan logam berat seperti timbal hitam (Pb), merkuri (Hg), Arsen (As), Cadmium (Cd) dan Antimoni (Sb). Logam-logam berat diatas semuanya berupa racun otak yang kuat.
Yang dimaksud dengan terapi biomedik adalah mencari semua gangguan tersebut diatas dan bila ditemukan, maka harus diperbaiki , dengan demikian diharapkan bahwa fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejala-gejala autisme berkurang atau bahkan menghilang.
Pemeriksaan yang dilakukan biasanya adalah pemeriksaan laboratorik yang meliputi pemeriksaan darah, urin, rambut dan feses. Juga pemeriksaan colonoscopy dilakukan bila ada indikasi.
Terapi biomedik tidak menggantikan terapi-terapi yang telah ada, seperti terapi perilaku, wicara, okupasi dan integrasi sensoris. Terapi biomedik melengkapi terapi yang telah ada dengan memperbaiki “dari dalam”. Dengan demikian diharapkan bahwa perbaikan akan lebih cepat terjadi.
Sumber: http://www.autisme.or.id/terapi/terapi_biomedik/
Terapi perilaku
Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan.
Secara lebih teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai A-B-C; yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti dengan C (consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis. Melalui gaya pengajarannya yang terstruktur, anak autis kemudian memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan olehnya sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku tersebut diharapkan cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence (konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan.
Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Terapi ini umumnya mendapatkan hasil yang signifikan bila dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.
Sumber: http://www.autisme.or.id/terapi/terapi_perilaku/
Terapi Wicara
Ganguan Komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders (ASD):
Bersifat: (1) Verbal; (2) Non-Verbal; (3) Kombinasi.
Area bantuan dan Terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara:
1. Untuk Organ Bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, maka
Terapis Wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan Oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.
2. Untuk Artikulasi atau Pengucapan:
Artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena karena adanya gangguan, Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation). Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/r; omission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apu; distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular.
3. Untuk Bahasa: Aktifitas-aktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah:
1. Phonology (bahasa bunyi);
2. Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata;
3. Morphology (perubahan pada kata),
4. Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa;
5. Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks yang lebih luas),
6. Metalinguistics (Bagaimana cara bekerja nya suatu Bahasa) dan;
7. Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).
4. Suara: Gangguan pada suara adalah Penyimpangandari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpangan-penyimpangan lainnya dari atribut-atribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin, atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.
5. Pendengaran: Bila keadaan diikut sertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan Terapi yang dapat diberikan: (1) Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait; (2) Terapi; Penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi;
PERAN KHUSUS dari Terapi wicara adalah mengajarkan suatu cara untuk ber KOMUNIKASI:
1. Berbicara:
Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional. (Termasuk bahasa reseptif/ ekspresif – kata benda, kata kerja, kemampuan memulai pembicaraan, dll).
2. Penggunaan Alat Bantu (Augmentative Communication): Gambar atau symbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa; (1) : penggunaan Alat Bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal); (2) Alat Bantu itu sendiri sebagai bahasa bagi yang memang NON-Verbal.
Dimana Terapis Wicara Bekerja:
1. Dirumah Sakit: Pada bagian Rehabilitasi, biasanya bekerjasama dengan dokter rehabilitasi bersama tim rehabilitasi lainnya (dokter, psikolog, physioterapis dan Terapis Okupasi).
2. Disekolah Biasa: Tidak Umum di Indonesia. Pada bagian Penerimaan siswa baru, biasanya bekerjasama dengan guru, psikolog dan konselor. Menangani permasalah keterlambatan berbahasa dan berbicara pada tahap sekolah, dan memantau dari awal murid-murid dengan kesulitan atau gangguan berbicara tetapi masih dapat ditangani dengan pemberian terapi pada tahap sekolah biasa.
3. Disekolah Luar Biasa: Pada bagian Terapi wicara, bekerjasama dengan guru dan professional lainnya pada sekolah tersebut. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi
4. Pada Klinik Rehabilitasi: Praktek dibawah pengawasan dokter, biasanya dengan tim rehabilitasi lainnya,
5. Praktek Perorangan: Praktek sendiri berdasarkan rujukan, bekerjasama melalui networking. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi.
6. Home Visit: Mendatangi rumah pasien untuk pelayanan-pelayanan diatas dikarenakan ketidakmungkinan untuk pasien tersebut berpergian ataupun dengan perjanjian.
Evi Sabir-Gitawan BSc. Speech & Language Pathologist
Sumber: http://www.autisme.or.id/terapi/terapi_wicara/