Selasa, 21 Oktober 2008

Terapi dengan Musik

Terapi musik perkusi bagi penderita autis
Terapi musik pada penderita autis membawa anak ke dalam situasi yang menenangkan yang memberikannya kesempatan mengembangkan dan mempersiapkan diri mempelajari hal lain. Terapi ini menjadi produktif karena lebih mengarah ke suatu bentuk bermain yang rileks serta dapat mengurangi stress.

Menyeimbangkan Otak Kiri-Kanan
Musik bukan obat. Musik merangsang perkembangan belahan otak kiri dan kanan. Musik meningkatkan kemampuan kerja otak. Musik dalam kekuatan alaminya memperbaiki proses komunikasi dan interaksi dengan orang lain. Selain itu juga meningkatkan kemandirian dalam berbicara, berbahasa, kemampuan fisik, sosial, mengambil sikap dan mandiri serta pengekspresian diri.

Anak autis mengalami hambatan di dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial. Melihat pengaruh musik menyeimbangkan perkembangan belahan kiri dan kanan otak, maka terapi musik memberikan anak-anak autis suatu jalan untuk mampu mengekspresikan dirinya.

Bunyi yang dikeluarkan waktu menekan tuts piano menyebabkan perhatiannya terpusat. Tekanan tangannya menimbulkan bunyi. Bunyi tuts piano menyebabkan ia tenang, sedangkan jari-jarinya yang menyentuh tuts piano dapat mengeluarkan bunyi, merangsang keingintahuan anak sehingga ia ingin mencoba dan mencoba. Ekspresi yang muncul dalam kesenangan dan kepuasan karena berhasil memunculkan bunyi itu merangsang memori verbal berfungsi dengan baik. Dengan adanya rangsangan orang yang ada disekitarnya yang menambah perbendaharaan kata, menyebabkan anak bisa dengan teratur menyampaikan pikirannya melalui kata-kata. Kemampuan anak tidak hanya melulu dari mengetuk tuts piano, tetapi secara menyeluruh dari rangsangan yang ada disekitarnya.
Ia menjadi lebih tenang karena merasa nyaman dengan nada, irama, dan tekanan bunyi musik yang dibunyikannya karena dasarnya telah pernah ia dengarkan, rasakan dan pelajari waktu ia di dalam kandungan ibunya. Aliran darah ibunya memperdengarkan bunyi musik membuat ia memusatkan perhatian. Aliran darah itu dipengaruhi oleh emosi dan pikirannya yang merangsang janin itu untuk bereaksi. Ini adalah pembelajaran pertama dari janin untuk bereaksi terhadap rangsangan di luar dirinya di dalam kandungan ibunya. Janin di dalam kandungan belajar dan menyimpan memorinya sebagai dasar di dalam memahami kehidupan berikutnya setelah ia lahir.


Semua anak mempunyai keinginan untuk mencoba. Jika pada saat mencoba tidak ada hambatan, maka ia akan terus mencoba, ia mempunyai kesenangan dan perhatiannya terus tertuju untuk bisa menimbulkan bunyi. Kesempatan tersebut membuatnya senang, sekaligus memberikan keluasan dan tanpa sadar ia mapu mengekspresikan emosinya ia bisa tersenyum bahkan tertawa. Perasaan ini merangsang zat-zat kimia otaknya. Kepuasan dan kebahagiaan anak merangsang seluruh tubuhnya, sehingga motorik anak itu bereaksi. Otot-otot tubuhnya bersama-sama emosinya aktif .

Secara khusus, ketenangan dari ritme, dan berbagai kemungkinan harmonisasi nada, tersalurkan oleh rentangan nada yang luas dari kemampuan perkusi serta sustain dari piano merupakan elemen yang memberikan respons terapeulitik terhadap klien. Dalam keadaan ini berbunyi harmonis, frekuensi rendah, dan monoton membawa anak ke dalam keadaan meditasi. Ia terlatih untuk memusatkan perhatian. Ia terlatih untuk bereaksi dengan rangsangan, tidak hanya dengan satu rangsangan, tetapi beberapa rangsangan yang datang dari luar. Disamping itu bunyi ini juga bisa menghantarkan ia berada dalam keadaan relaksasi sehingga bisa membawa anak itu istirahat dan tidur nyenyak. Tidur nyenyak merupakan hal penting dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak.


sumber:
http://www.suryani-institute.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=60&mode=thread&order=0&thold=0

Terapi dengan Lumba-Lumba

Lumba-lumba Sembuhkan Autis



TIGA TAHUN lalu, Helen (28) sedih mendapati M. Arief Sofyan, anaknya yang ketika itu berusia 2 tahun, selalu tidak merespon bila dipanggil. Arief selalu menyendiri, tidak mau berbicara, padahal di rumah tidak mau diam alias hiperaktif.
Dari analisis pengobatan medis, diketahui Arief menyandang gangguan autisme. Helen tentu harus memberikan perhatian khusus pada buah hatinya itu. Ibu tiga anak ini memasukkan Arief di sekolah untuk anak dengan kebutuhan khusus, memberikan asupan yang tepat, juga menghadiri berbagai seminar tentang autisme guna menambah pengetahuan dalam mendidik Arief.
Beruntung, lewat Endang Sumaryati, dari Kompartemen Sarjana Fisioterapi 99 dan berpraktik di Klinik Dolphin, Helen mengenal Klinik Dolphin yang berada di Balai Samudera Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta Utara. Helen menambah terapi bagi Arief, yakni bermain bersama lumba-lumba di Gelanggang Samudera (GSA) TIJA, tanpa meninggalkan terapi-terapi sebelumnya.
“Saya sudah mengajak Arief terapi dengan lumba-lumba ini sebanyak 23 kali. Semula tiap hari sekali selama sepuluh hari berturut-turut, kini seminggu dua kali. Hasilnya seperti yang Anda lihat, Arief sudah mampu berinteraksi dengan pelatih lumba-lumba, terapis, dan orang lain. Ia juga sudah bisa berkonsentrasi penuh,” tutur Helen.
Gangguan Perkembangan
Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks, disebabkan adanya kerusakan pada otak. Anak mengalami gangguan seputar perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan bersosialisasi, dan lain-lain.
Anak dengan gangguan autis dikenal sebagai pribadi yang tak mampu berkomunikasi dengan orang terdekat sekalipun. Anak autis juga tak mampu mengekspresikan perasaan dan keinginannya, seringkali tertawa atau menangis sendiri.
Meski secara fisik tak bercela, ciri yang menonjol pada anak autis adalah sulit berbicara. Hingga kini, gangguan ini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, serangkaian terapi telah banyak dilakukan orang, misalnya metode ABA (applied behavioral analysis), hidrotermal, hidromekanik, dan hidrokemis.
Metode yang kini sedang tren adalah terapi lumba-lumba (dolphin therapy). Menurut Endang, lumba-lumba adalah makhluk ajaib. Hewan ini sudah dikenal manusia selama berabad-abad lamanya.
Bangsa Yunani Kuno misalnya, menamakannya sebagai konstelasi bintang, delphinus, atau lumba-lumba. Bangsa Romawi kuno mempercayainya sebagai simbol cinta sejati, persahabatan, dan harmoni.
Dr. Ken Marten, ilmuwan di Earthtrust, Hawaii, Amerika Serikat, mengatakan bahwa lumba-lumba mampu berenang dengan kecepatan lebih dari 40 km per jam. Hewan ini mampu mengirimkan serangkaian sinyal ultrasonik untuk mendeteksi keberadaan benda di sekitarnya. Lumba-lumba juga senang bermain-main. Otaknya yang lebih besar dari simpanse atau kera, membuatnya tergolong binatang cerdas.
Kegemaran bermain memudahkan hewan menyusui ini akrab dengan manusia. Cerita seputar hubungan manusia dengan lumba-lumba juga pernah difilmkan, misalnya dalam Flipper, yang dibintangi Paul Hogan dan Elijah Wood. Kepandaian lumba-lumba berinteraksi dengan manusia dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan sebagai terapi pengobatan. Stimulasi-stimulasi yang dilakukan lumba-lumba pada panca indra memungkinkan dicapainya kesembuhan bagi manusia.
“Suara lumba-lumba membuat rileks dan perasaan menjadi lebih tenang. Sentuhannya merangsang saraf sensoris, pendengaran, penglihatan, dan konsentrasi anak. Setelah bermain dengan lumba-lumba, anak menjadi lebih konsentrasi, sehingga memacu semangat belajar. Klinik Dolphin TIJA saat ini mengkhususkan terapi untuk anak dengan kebutuhan khusus,” ujar Endang, yang juga fisioterapis di RS Islam Jakarta.
Program 10 Hari
Pasien-pasien yang datang, menurut Endang, biasanya sudah keluar masuk sekolah-sekolah autis atau pernah melakukan terapi lain. Terapi lumba-lumba di Klinik Dolpin dilakukan secara bertahap.
Setelah diketahui hasil rekan mediknya, pasien diwajibkan datang sepuluh hari berturut-turut. Hari pertama hingga ketiga diisi dengan pengenalan situasi dan lumba-lumbanya itu sendiri. Pasien belum diizinkan untuk turun ke kolam. “Mereka hanya boleh bermain air dan sesekali memegang tubuh lumba-lumba dari pinggir kolam,” paparnya.
Pada hari keempat hingga kesepuluh, pasien diajak bermain dengan seekor lumba-lumba, melibatkan seorang terapis dan pelatih hewan mamalia ini. Lumba-lumba GSA yang dijadikan media terapi jumlahnya tiga ekor, namanya Mia, Pauline, dan Rina. Permainan yang dilakukan antara lain berenang bersama, duduk di punggung, atau memberi ikan kecil kepada lumba-lumba.
Setelah sepuluh hari terapi, perkembangan pasien dievaluasi. Dari hasil itulah, bisa diketahui rencana terapi ke depan, sekaligus jenisnya atau interaksi lanjutan. Dari pengalaman Endang, program pertama selama sepuluh hari tersebut memberikan hasil positif bagi pasien-pasiennya. Banyak anak autis yang mampu berkonsentrasi dan bisa diajak bicara.
Banyak penderita gangguan autis merasakan manfaat terapi lumba-lumba di Klinik Dolphin yang bekerja sama dengan Gelanggang Samudera Ancol ini. Tak kurang pasien dari Bandung, Tegal, Semarang, dan Jayapura pernah mendapat manfaatnya.
Endang tak mau menyebutkan harga terapi ini. Ia hanya menganjurkan calon pasien untuk mengikuti sistem keanggotaan, sehingga harganya relatif murah. Sebab, sudah termasuk uang pangkal, pendaftaran, dan potongan tiket tanda masuk ke TIJA dan GSA.
Kenapa Lumba-Lumba?
Di Amerika Serikat, penyembuhan menggunakan lumba-lumba untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus, sudah tidak asing lagi. Kata Dr. Erwin Kusuma SpKJ, dari Klinik Prorevital, Jakarta, sejak tahun 1978, metode penyembuhan dengan hewan ini sudah dikembangkan DR. David Nathanson, Ph.D, psikolog yang telah menggeluti dunia lumba-lumba lebih dari 30 tahun.
DR. Nathanson mengamati dan meneliti ketika manusia dan lumba-lumba saling berinteraksi. Psikolog yang membuka terapi di Ocean World, Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat itu mulanya menstimulasi panca indra anak-anak yang mengalami down syndrome atau keterbelakangan mental degan mengajak mereka bermain dan berenang bersama lumba-lumba.
Hasilnya, anak-anak tersebut mampu menerima stimulasi dan mulai memberi perhatian. Dalam perkembangannya, lumba-lumba tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak down syndrome atau autis saja, juga untuk orang dewasa yang mengalami gangguan mental dan sensor saraf indra.
Kenapa lumba-lumba? Lumba-lumba bisa dijadikan sarana terapi karena mampu berinteraksi dengan manusia. Hasil penelitian Vilchis Quiroz dari Medical Director Aragon Aquarium, Mexico City, Meksiko, ketika berinteraksi dengan lumba-lumba, hormon endorfin pada manusia meningkat. Hal ini membuat terbentuknya keseimbangan antara otak kiri dan kanan. Gelombang ultrasonik, hasil stimulasi suara-suara atau sonar yang dikeluarkan lumba-lumba, mampu diterima sempurna oleh manusia.


Sumber: banjarmasinpost.co.id

Applied Behavior Analysis (ABA)

Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan. Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA).
Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan.
Secara lebih teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai A-B-C; yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti dengan C (consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis. Melalui gaya pengajarannya yang terstruktur, anak autis kemudian memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan olehnya sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku tersebut diharapkan cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence (konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan.
Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Terapi ini umumnya mendapatkan hasil yang signifikan bila dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.


Sumber: http://youthshineacademy.blogspot.com/2007/05/applied-behavior-analysis-aba.html

Terapi Visual

Pelatihan anak autis secara visual
Penyandang autis lebih bisa memahami informasi yang diterima dalam bentuk gambar dibandingkan dengan bahasa lisan ataupun tulisan, oleh karena itu dalam mengajar mereka dibutuhkan tatalaksana khusus. Duapuluh persen dari penyandang autisme tidak akan bicara, bagi mereka dapat diajarkan ketrampilan komunikasi dengan cara lain, yaitu
gambar-gambar atau Picture Exchange Communication (PEC) atau Computer Pictograph for Communication (COMPIC) atau Communication Through Picture. Gambar-gambar tersebut dapat disusun di papan komunikasi manual ataupun melalui komputer. Secara umum anak autis memiliki kemampuan yang menonjol di bidang visual. Mereka lebih mudah untuk mengingat dan belajar, bila diperlihatkan gambar atau tulisan dari benda-benda, kejadian, tingka llaku maupun konsep-konsep abstrak. Dengan melihat gambar atau tulisan, anak autis akan membentuk gambaran mental atau mental image yang jelas dan relatif permanen dalam benaknya. Bila materi tersebut hanya diucapkan saja mereka akan mudah melupakannya karena daya ingat mereka amat terbatas. Karena itu dalam melakukan terapi digunakan sebanyak mungkin kartu-kartu bergambar dan alat bantu visual lain untuk membantu mereka mengingat, hal ini juga berlaku untuk anak autis yang hanya mengalami gangguan di bidang verbal. Untuk melatih penderita agar bisa berkomunikasi, kita harus menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi mereka. Orang tua dan pendidik bisa menggunakan ekspresi wajah, gerak isyarat, mengubah nada suara, menunjuk gambar, menunjuk tulisan, menggunakan papan komunikasi dan menggunakan simbol-simbol. Cara-cara tersebut tidak hanya digunakan secara tersendiri, tetapi juga dapat digabungkan sehingga membentuk pesan yang lebih kuat. Cara-cara tersebut diatas, dapat diintegrasikan dengan menggunakan teknologi multimedia interaktif. Karakter sebuah aplikasi multimedia interaktif adalah gabungan dua atau lebih dari beberapa media, yang dapat diakses secara interaktif, sehingga membentuk sebuah efek komunikasi yang kuat. Sebuah studi yang dilakukan oleh Software Publisher Association (SPA) tentang keefektifan penggunaan teknologi menunjukkan manusia mendapat 80 persen pengetahuan dari melihat, tetapi hanya 11 persen yang teringat. Persentase ini lebih kecil melalui pendengaran tetapi hasil yang diingat lebih tinggi. Kombinasi keduanya akan sangat efektif dan menaikkan daya ingat hingga 50 persen. Dengan demikian aplikasi multimedia merupakan sarana yang tepat untuk pendidikan.


Sumber: http://images.dartz.multiply.com/attachment/0/SDV21QoKCr0AAGFEzKU1/RANCANGAN%20KOMUNIKASI%20VISUAL.pdf?nmid=97313302

Terapi bermain

PENERAPAN TERAPI BERMAIN BAGI PENYANDANG AUTISME
Sebagian besar teknik terapi bermain yang dilaporkan dalam literatur menggunakan basis pendekatan psikodinamika atau sudut pandang analitis. Hal ini sangat menarik karena pendekatan ini secara tradisional dianggap membutuhkan komunikasi verbal yang tinggi, sementara populasi autistik tidak dapat berkomunikasi secara verbal.
Namun terdapat juga beberapa hasil penelitian yang menunjukkan penggunaan terapi bermain pada penyandang autisme dengan berdasar pada pendekatan perilakuan (Landreth, 2001). Salah satu contoh penerapan terapi bermain yang menggunakan pendekatan perilakuan adalah The ETHOS Play Session dari Bryna Siegel (Schaefer, Gitlin, & Sandgrund, 1991).
Terdapat beberapa contoh penerapan terapi bermain bagi anak-anak autistik, diantaranya adalah (Landreth, 2001):
1. Terapi yang dilakukan Bromfield terhadap seorang penyandang autisme yang dapat berfungsi secara baik. Fokus terapinya untuk dapat masuk ke dunia anak agar dapat memahami pembicaraan dan perilaku anak yang membingungkan dan kadang tidak diketahui maknanya. Bromfield mencoba menirukan perilaku obsessif anak untuk mencium/membaui semua objek yang ditemui menggunakan suatu boneka yang juga mencium-cium benda. Apa yang dilakukan Bromfield dan yang dikatakannya ternyata dapat menarik perhatian anak tersebut. Bromfield berhasil menjalin komunikasi lanjutan dengan anak tersebut menggunakan alat-alat bermain lain seperti boneka, catatan-catatan kecil, dan telepon mainan. Setelah proses terapi yang berjalan 3 tahun, si anak dapat berkomunikasi secara lebih sering dan langsung.
2. Lower & Lanyado juga menerapkan terapi bermain yang menggunakan pemaknaan sebagai teknik utama. Mereka berusaha masuk ke dunia anak dengan memaknai bahasa tubuh dan tanda-tanda dari anak, seperti gerakan menunjuk. Tidak ada penjelasan detil tentang teknik mereka namun dikatakan bahwa mereka kurang berhasil dengan teknik ini.
3. Wolfberg & Schuler menyarankan penggunaan terapi bermain kelompok bagi anak-anak autistik dan menekankan pentingnya integrasi kelompok yang lebih banyak memasukkan anak-anak dengan kemampuan sosial yan tinggi. Jadi mereka memasangkan anak-anak autistik dengan anak-anak normal dan secara hati-hati memilih alat bermain dan jenis permainan yang dapat memfasilitasi proses bermain dan interaksi di antara mereka. Fasilitator dewasa hanya berperan sebagai pendukung dan mendorong terjadinya proses interaksi yang tepat.
4. Mundschenk & Sasso juga menggunakan terapi bermain kelompok ini. Mereka melatih anak-anak non-autistik untuk berinteraksi dengan anak-anak autistik dalam kelompok.
5. Voyat mendeskripsikan pendekatan multi disiplin dalam penggunaan terapi bermain bagi anak autisme, yaitu dengan menggabungkan terapi bermain dengan pendidikan khusus dan melatih ketrampilan mengurus diri sendiri.
EFEKTIVITAS TERAPI BERMAIN BAGI PENYANDANG AUTISME
Efektivitas penggunaan terapi bermain masih cukup sulit diketahui karena sampai saat ini kebanyakan literatur masih memaparkan hasil kasus per kasus. Namun Bromfield, Lanyado, & Lowery menyatakan bahwa klien mereka menunjukkan peningkatan dalam bidang perkembangan bahasa, interaksi sosial, dan berkurangnya perilaku stereotip, setelah proses terapi. Mereka dikatakan juga dapat mentransfer ketrampilan ini di luar seting bermain.
Wolfberg & Schuler menyatakan bahwa model terapi bermain yang terintegrasi dalam kelompok juga dapat berhasil, dimana program ini ditujukan untuk meningkatkan interaksi sosial dan melatih ketrampilan bermain simbolik. Mundschenk & Sasso juga melaporkan hal yang sama.
PRINSIP-PRINSIP PENERAPAN TERAPI BERMAIN BAGI ANAK AUTISTIK
Terdapat beberapa hal prinsip yang harus dipahami terapis sebelum menerapkan terapi bermain bagi anak-anak autistik, yaitu:
1. Terapis harus belajar “bahasa” yang diekspresikan kliennya agar dapat lebih membantu. Karena itu metode yang disarankan adalah terapi yang berpusat pada klien.
2. Harus disadari bahwa terapi pada populasi ini prosesnya lama dan sangat sulit sehingga membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi. Apa yang kita latihkan bagi anak normal dalam waktu beberapa jam mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun pada anak autistik. Kondisi ini kadang membuat terapis bosan dan putus asa.
3. Terapis harus menghindari memandang isolasi diri anak sebagai penolakan diri dan tidak memaksa anak untuk menjalin hubungan sampai anak betul-betul siap.
4. Terapis juga harus betul-betul sadar bahwa meskipun anak autistik dapat mengalami kemajuan dalam terapi yang diberikan, ketrampilan sosial dan bermain mereka mungkin tidak akan bisa betul-betul normal. Jika tujuan umum terapi adalah untuk membantu anak dapat memaksimalkan potensi mereka dan memberi mereka kesempatan untuk berfungsi lebih baik dalam hidup mereka, maka keberhasilan sekecil apapun harus dianggap sebagai kemenangan dan harus disyukuri sepenuh hati.
Berdasarkan luasnya batasan terapi bermain maka penerapannya bagi penyandang autisme memerlukan batasan-batasan yang lebih spesifik, disesuaikan dengan karakteristik penyandang autisme sendiri. Pada anak penyandang autisme, terapi bermain dapat dilakukan untuk membantu mengembangkan ketrampilan sosial, menumbuhkan kesadaran akan keberadaan orang lain dan lingkungan sosialnya, mengembangkan ketrampilan bicara, mengurangi perilaku stereotip, dan mengendalikan agresivitas.
Berbeda dengan anak-anak non autistik yang secara mudah dapat mempelajari dunia sekitarnya dan meniru apa yang dilihatnya, maka anak-anak autistik memiliki hambatan dalam meniru dan ketrampilan bermainnya kurang variatif. Hal ini menjadikan penerapan terapi bermain bagi anak autisme perlu sedikit berbeda dengan pada kasus yang lain, misalnya:
1. Tujuan dan target setiap sesi terapi bermain harus spesifik berdasarkan kondisi dan ketrampilan anak, dilakukan dengan bertahap dan terstruktur . Misalnya pada penyandang autisme yang belum terbentuk kontak mata, maka mungkin tujuan terapi bermain dapat diarahkan untuk membentuk kontak mata. Permainan yang dapat dipilih misalnya ci luk ba, lempar tangkap dengan bantuan, ‘lihat ini’, dan lain-lain.
2. Jika secara umum terapi bermain memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan eksplorasi, maka pada anak autisme hal ini akan memerlukan usaha yang lebih keras dari terapis terutama jika anak belum memiliki kesadaran akan dirinya dan dunia sekitarnya sehingga inisiatif belum muncul. Pada kasus seperti ini maka terapis perlu lebih aktif menarik anak untuk masuk dalam forum bermain dengan secara aktif menunjukkan contoh dan menarik anak terlibat. Misalnya dengan menunjuk masing-masing alat bermain yang ada sambil menyebutkan namanya, memberi contoh bagaimana alat bermain itu digunakan, terapis bermain pura-pura dengan tetap berusaha menarik anak terlibat.
3. Jika kesadaran diri dan dunia sekitarnya sudah muncul , maka anak dapat diberikan target yang lebih tinggi misalnya melatih ketrampilan verbal (berbicara) dan ketrampilan sosial. Pada tahap ini maka pelibatan anak dalam forum yang lebih besar, dengan melibatkan anak-anak sebaya lain mungkin lebih membantu. Misalnya anak diajak bernyanyi bersama, dibacakan cerita bersama anak-anak lain, diajak berbicara, dan permainan lainnya.
4. Terapi bermain bagi penyandang autisme dapat ditujukan untuk meminimalkan/menghilangkan perilaku agresif, perilaku menyakiti diri sendiri, dan menghilangkan perilaku stereotip yang tidak bermanfaat. Hal ini dapat dilakukan dengan melatihkan gerakan-gerakan tertentu kepada anak, misalnya tepuk tangan, merentangkan tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, dan alat bermain yang lain. Dengan mengenalkan gerakan yang lain dan berbagai alat bermain yang dapat digunakan maka diharapkan dapat digunakan untuk mengalihkan agresivitas yang muncul, juga jika anak sering menyakiti diri sendiri. Mengenalkan anak pada permainan konstruktif seperti menyusun balok juga akan memberi kegiatan lain sehingga diharapkan perilaku stereotip yang tidak bermanfaat dapat diminimalkan.
Demikian beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam terapi bermain bagi penyandang autisme. Namun, disamping beberapa hal tersebut terdapat beberapa hal prinsip yang juga harus diperhatikan, yaitu:
1. Terapi bagi anak penyandang autisme tidak dapat dilakukan hanya dengan terapi tunggal. Mengingat bahwa spektrum hambatan yang dialami anak autism sangat luas dan kompleks, maka terapi bermain sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan terapi yang lain, misalnya terapi wicara, terapi medis, dan lain-lain. Rencana program terapi yang dijalankan pun harus disusun dengan terpadu dan terstruktur dengan baik, begitu juga proses evaluasinya.
2. Terapi bermain ini harus dilakukan oleh tenaga terapis yang sudah terlatih dan betul-betul mencintai dunia anak dan pekerjaannya. Hal ini terlebih pada penyandang autisme karena menangani anak autisme memerlukan kesabaran dan keteguhan hati yang tinggi. Jika pada anak non autistik target perubahan perilaku yang dibuat mungkin dapat dicapai dengan cepat dan lebih mudah, maka bagi penyandang autisme belajar perilaku baru memerlukan usaha dan perjuangan yang sangat keras dan belum tentu berhasil memuaskan.
3. Keberhasilan program terapi bermain sangat ditentukan oleh bagus tidaknya kerja sama terapis dengan orang tua dan orang-orang lain yang terlibat dalam pengasuhan anak sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan proses transfer ketrampilan yang sudah diperoleh selama terapi yang harus terus dipelihara dan ditingkatkan dalam kehidupan di luar program terapi.
Demikianlah beberapa hal yang menurut saya penting diketahui tentang penerapan terapi bermain bagi anak penyandang autisme. Sekali lagi, harus dicatat bahwa terapi bermain adalah salah satu alternatif saja diantara sekian banyak program terapi yang sudah dikembangkan bagi anak autisme. Masukan dan kritik bagi makalah ini sangat diharapkan demi proses belajar saya dan perbaikan ke depan. Terima kasih.


Sumber: http://www.liputankita.com/artikel-liputankita/penerapan-terapi-bermain-bagi-penyandang-autisme-berita-liputankita.html

Integrasi sensorik

Integrasi sensoris berarti kemampuan untuk mengolah dan mengartikan seluruh rangsang sensoris yang diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan kemudian menghasilkan respons yang terarah.
Disfungsi dari integrasi sensoris atau disebut juga disintegrasi sensoris berarti ketidak mampuan untuk mengolah rangsang sensoris yang diterima.

Gejala adanya disintegrasi sensoris bisa tampak dari : pengendalian sikap tubuh, motorik halus, dan motorik kasar. Adanya gangguan dalam ketrampilan persepsi , kognitif, psikososial, dan mengolah rangsang.
Namun semua gejala ini ada juga pada anak dengan diagnosa yang berbeda, misalnya anak dengan ASD. Diagnosa disintegrasi sensoris tidak boleh ditegakkan kalau ada tanda-tanda gangguan pada Susunan Saraf pusat.

Terapi integrasi sensoris :
Aktivitas fisik yang terarah, bisa menimbulkan respons yang adaptif yang makin kompleks. Dengan demikian efisiensi otak makin meningkat.
Terapi integrasi sensoris meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga ia lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya.
Aktivitas integrasi sensoris merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks , dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.

Sumber: http://www.autisme.or.id/terapi/integrasi_sensori/

Terapi Biomedik

Akhir-akhir ini terapi biomedik banyak diterapkan pada anak dengan ASD. Hal ini didasarkan atas penemuan-penemuan para pakar, bahwa pada anak-anak ini terdapat banyak gangguan metabolisme dalam tubuhnya yang mempengaruhi susunan saraf pusat sedemikian rupa, sehingga fungsi otak terganggu. Gangguan tersebut bisa memperberat gejala autisme yang sudah ada, atau bahkan bisa juga bekerja sebagai pencetus dari timbulnya gejala autisme.

Yang sering ditemukan adalah adanya multiple food allergy, gangguan pencernaan, peradangan dinding usus, adanya exomorphin dalam otak (yang terjadi dari casein dan gluten), gangguan keseimbangan mineral tubuh, dan keracunan logam berat seperti timbal hitam (Pb), merkuri (Hg), Arsen (As), Cadmium (Cd) dan Antimoni (Sb). Logam-logam berat diatas semuanya berupa racun otak yang kuat.

Yang dimaksud dengan terapi biomedik adalah mencari semua gangguan tersebut diatas dan bila ditemukan, maka harus diperbaiki , dengan demikian diharapkan bahwa fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejala-gejala autisme berkurang atau bahkan menghilang.
Pemeriksaan yang dilakukan biasanya adalah pemeriksaan laboratorik yang meliputi pemeriksaan darah, urin, rambut dan feses. Juga pemeriksaan colonoscopy dilakukan bila ada indikasi.
Terapi biomedik tidak menggantikan terapi-terapi yang telah ada, seperti terapi perilaku, wicara, okupasi dan integrasi sensoris. Terapi biomedik melengkapi terapi yang telah ada dengan memperbaiki “dari dalam”. Dengan demikian diharapkan bahwa perbaikan akan lebih cepat terjadi.

Sumber: http://www.autisme.or.id/terapi/terapi_biomedik/

Terapi perilaku

Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan. Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA).
Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan.
Secara lebih teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai A-B-C; yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti dengan C (consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis. Melalui gaya pengajarannya yang terstruktur, anak autis kemudian memahami Behavior (perilaku) apa yang diharapkan dilakukan olehnya sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku tersebut diharapkan cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence (konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan.
Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Terapi ini umumnya mendapatkan hasil yang signifikan bila dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.


Sumber: http://www.autisme.or.id/terapi/terapi_perilaku/

Terapi Wicara

Terapis Wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau ganguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak. Terapis Wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi; dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus.
Ganguan Komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders (ASD):
Bersifat: (1) Verbal; (2) Non-Verbal; (3) Kombinasi.
Area bantuan dan Terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara:
1. Untuk Organ Bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, maka
Terapis Wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan Oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.
2. Untuk Artikulasi atau Pengucapan:
Artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena karena adanya gangguan, Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation). Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/r; omission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apu; distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular.
3. Untuk Bahasa: Aktifitas-aktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah:
1. Phonology (bahasa bunyi);
2. Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata;
3. Morphology (perubahan pada kata),
4. Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa;
5. Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks yang lebih luas),
6. Metalinguistics (Bagaimana cara bekerja nya suatu Bahasa) dan;
7. Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).
4. Suara: Gangguan pada suara adalah Penyimpangandari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpangan-penyimpangan lainnya dari atribut-atribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin, atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.
5. Pendengaran: Bila keadaan diikut sertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan Terapi yang dapat diberikan: (1) Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait; (2) Terapi; Penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi;
PERAN KHUSUS dari Terapi wicara adalah mengajarkan suatu cara untuk ber KOMUNIKASI:
1. Berbicara:
Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional. (Termasuk bahasa reseptif/ ekspresif – kata benda, kata kerja, kemampuan memulai pembicaraan, dll).
2. Penggunaan Alat Bantu (Augmentative Communication): Gambar atau symbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa; (1) : penggunaan Alat Bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal); (2) Alat Bantu itu sendiri sebagai bahasa bagi yang memang NON-Verbal.
Dimana Terapis Wicara Bekerja:
1. Dirumah Sakit: Pada bagian Rehabilitasi, biasanya bekerjasama dengan dokter rehabilitasi bersama tim rehabilitasi lainnya (dokter, psikolog, physioterapis dan Terapis Okupasi).
2. Disekolah Biasa: Tidak Umum di Indonesia. Pada bagian Penerimaan siswa baru, biasanya bekerjasama dengan guru, psikolog dan konselor. Menangani permasalah keterlambatan berbahasa dan berbicara pada tahap sekolah, dan memantau dari awal murid-murid dengan kesulitan atau gangguan berbicara tetapi masih dapat ditangani dengan pemberian terapi pada tahap sekolah biasa.
3. Disekolah Luar Biasa: Pada bagian Terapi wicara, bekerjasama dengan guru dan professional lainnya pada sekolah tersebut. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi
4. Pada Klinik Rehabilitasi: Praktek dibawah pengawasan dokter, biasanya dengan tim rehabilitasi lainnya,
5. Praktek Perorangan: Praktek sendiri berdasarkan rujukan, bekerjasama melalui networking. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi.
6. Home Visit: Mendatangi rumah pasien untuk pelayanan-pelayanan diatas dikarenakan ketidakmungkinan untuk pasien tersebut berpergian ataupun dengan perjanjian.

Evi Sabir-Gitawan BSc. Speech & Language Pathologist
Sumber: http://www.autisme.or.id/terapi/terapi_wicara/

10 Model Terapi Anak Autis

Akhir2 ini bermunculan berbagai cara / obat/ suplemen yang ditawarkan dengan iming2 bisa menyembuhkan autisme. Kadang2 secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara2 mengiklankan diri di televisi/radio/tulisan2.
Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.
Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar2 diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang , namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot2 halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang2 tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot2nya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).


Sumber: www.slbpembina-riau.com

Penanganan Umum Autisme

Mengingat demikian luas teori penyebab autis maka penanganan atau terapi yang bisa diberikan sangat banyak dan bervariasi. Banyak peneliti melaporkan hasil penelitiannya dalam terapi autis berbeda tergantung berdasarkan berbagai teori yang dianut atau pengalaman peneliti. Pada umumnya mereka melaporkan hasil yang baik, meskipun berbagai hasil penelitian tersebut perlu dikaji lebih jauh secara ilmiah. Terapi yang ideal harus sesuai dengan kondisi imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan penderita lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang bisa mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan dan terapi untuk penderita.
Secara umum pendekatan terapi autis dikelompokkan berdasarkan kajian ilmiah berbasis bukti, terapi medis murni kedokteran, gabungan terapi medis kedokteran dan tradisional atau terapi tradisional lainnya. Pembagian tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 bagian diantaranya adalah : terapi konvensional, terapi inovatif dan terapi alternatif.

TERAPI KONVENSIONAL

• TERAPI BIOMEDIS

o Detoxification for Heavy Metals


o Terapi Vitamin Dan Mineral



o Terapi enzimatik


o Terapi Jamur


TERAPI OKUPASI

Ada beberapa terapi okupasi untuk memperbaiki gangguan perkembangan dan perilaku pada anak yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli perkembangan dan perilaku anak di dunia, diantaranya adalah sensory integration (Ayres), snoezelen, terapi neurodevelopment (Bobath), modifukasi perilaku, terapi bermain dan terapi okupasi lainnya
Kebutuhan dasar anak dengan gangguan perkembangan adalah sensori. Pada anak dengan gangguan perkembangan sensorinya mengalami gangguan dan tidak terintegrasi sensorinya. Sehingga pada anak dengan gangguan perkembangan perlu mendapatkan pengintegrasian sensori tersebut dengan terapi sensori integration. Sensori integration adalah pengorganisasian informasi melalui beberapa jenis sensori di anataranya adalah sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan grafitasi, penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan penciuman yang sangat berguna untuk menghasilkan respon yang bermakna. Beberapa jenis terapi sensori integration adalah memberikan stimulus vestibular, propioseptif dan taktil input. Menurunkan tactile defensivenes dan meningkatkan tactile discrimanation. Meningkatkan body awareness berhubungan dengan propioseptik dan kinestetik.

Selain sensory integration terapi sensori lain yang dikenbal dalam terapi gangguan perkembangan dan perilaku adalah Snoezelen. Snoezelen adalah sebuah aktifitas yang dirancang mempengaruhi system Susunan Saraf pusat melalui pemberian stimuli yang cukup pada system sensori primer seperti penglihatan, pendengaran, peraba, perasa lidah dan pembau.Disamping itu juga melibatkan sensori internal seperti vestibular dan propioseptof untuk mencapai relaksasi atau akyivasi seseorang untuk memperbaiki kualitas hidupnya

Neurodevelopment treatment (NDT) adalah terapi sensorimotor dalam menangani gangguan sensorim motor. Terapi NDT dipakai bertujuan untuk meningkatkan kualitas motorik penderita. Tehnik dalam terapi ini adalah untuk memfokuskan pada fungsi motorik utama dan kegiatan secara langsung.

Terapi gangguan perilaku dapat melalui pendekatan modifikasi perilaku secara langsung, dengan lebih memfokuskan pada perubahan secara spesifik. Pendekatan ini cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agrsif, emosi labil, self injury dan sebagainya.

Intervensi DIR ((Developmental, Individual Differences, relation ship based) atau Floor Time merupakan Pendekatan pada anak dengan kebutuhan khusus yang dikembangkan oleh dr Stanley. Metode pendekatan yang bersahabat, hangat dan akrab untuk membangun hubungan anak sebagai individu untuk membantu memperbaiki proses perkembangan anak melalui bahasa tubuh, percakapan dan media bermain. Metode ini untuk mengerti dan memahami anak dan keluarga melalui proses identifikasi, sistematisasi dan integrasi dari perkembangan kapasitas perkembangan fungsional.

Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi. Terapi bermain adalah proses terapi psikologik pada anak, dimana alat permainan menjadi sarana utama untuk mencapai tujuannya. Ada 3 macam alat permainan : alat permainan fantasi, alat permainan ketrampilan dan alat permainan edukatif. Alat permainan fantasi berupa benda yang umum dan digunakan dalam bentuk miniatur, seperti mobil, boneka, alat masak. Permainan ini digunakan dengan mengandalkan fantasi pada anak yang masih cukup dominan. Sedangkan alat permainan ketrampilan dapat berupa bersepeda, main bola, berenang memelerlukan kemampuan ketrampilam motorik. Pengguanaan alat permainan edukatif ini bisa digunakan sebagai evalausi kemampuan anak dan juga untuk terapi. Alat yang digunakan bisa berupa : puzzle (bongkar pasang gambar) , menyusun balok atau mencocokkan warna dan bentuk.

• TERAPI DITETIK

o Alergi Makanan

o Bebas Gluten dan Kasein

o Terapi ditetik lainnya




TERAPI INOVATIF

• TherapySecretin

• Pengobatan Oksigen Hiperbarik

• Fibroblast Growth Factor 2

• Terapi Live Cell and Stem Cell

• Terapi antibiotika

• Pengobatan Naltrexone (NTX)

• Pendekatan psikologi Intensif

• Terapi edukasi intensif

• Terapi IV Immunoglobuin

• EEG Bio-feedback

• Terapi bermain Play

• Terapi Somatik


TERAPI ALTERNATIF

• Traditional Chinese medicine

• Terapi bermain Play

• Terapi Musik

• Terapi Akupuntur


BERBAGAI KONTROVERSI DAN CARA MENSIKAPINYA
Melihat demikian banyaknya cara terapi penderita autis, seringkali membuat bingung baik orang tua bahkan kalangan klinisi sendiri. Kontroversi seringkali timbUl karena beberapa peneliti mengklaim bahwa pendekatan terapi yang dilakukan paling efektif dan bermanfaat. Hal ini semakin membingungkan ketika para peneliti mengeluarkan berbagai teori penyebab yang sangat berbeda. Banyak peneliti melaporkan hasil penelitiannya dalam terapi dengan cara yang berbeda tergantung berdasarkan berbagai teori yang dianut atau pengalaman peneliti.
Berdasarkan pengalaman klinis berbasis bukti tampaknya terapi konvensional secara ilmiah lebih dapat dipertanggungjawabkan hasilnya dibandingkan terapi inovatif dan tradisional lainnya. Sehingga cara terapi ini banyak digunakan oleh para klinisi dan orang tua. Tetapi hal ini tidak berarti terapi inovatif dan terapi alternatif lainnya secara klinis tidak bermanfaat. Di masa mendatang diperlukan penelitian yang lebih baik dan berstruktur untuk membuktikan bahwa terapi tersebut nantinya dapat dihandalkan.
Dalam keadaan seperti ini sebaiknya kita harus bijak dalam mencermatinya. Bila kita tidak cermat maka waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk pemberian terapi sangat besar. Terapi yang ideal harus sesuai dengan kondisi imunopatobiologis yang sering berbeda satu penderita autis dengan penderita lainnya. Dengan mengidetifikasi penyebab atau penyakit lain yang bisa mempengaruhi secara cermat, maka dapat ditentukan strategi penanganan dan terapi untuk penderita. Selain kecermatan, juga dibutuhkan pengalaman dan kompetensi profesionalitas sesuai bidang ilmu yang dimiliki dalam penanganan kelainan yang menyertai. Harus melibatkan disiplin ilmu minat gastroenterologi anak, alergi anak, neurologi anak, endokrinologi anak dan sebagainya Beberapa contoh kasus misalnya seorang yang tidak mengalami alergi makanan dilakukan pendekatan eliminasi makanan alergi meskipun hal tersebut berdasarkan tes alergi. Contoh lainnya seseorang yang tidak mengalami intoleransi terhadap gluten dan kasein tetapi dilakukan eliminasi terhadap makanan tersebut.
Cara termudah yang mungkin bisa diikuti adalah apabila setelah melakukan jenis terapi tertentu penderita mengalami perbaikkan yang bermakna. Sebaiknya kita harus mempercayai fakta tersebut meskipun terapi tersebut masih menjadi kontroversi. Sebaliknya meskipun pendekatan terapi tersebut telah terbukti secara ilmiah baik, tetapi saat diberikan terhadap penderita tidak menunjukkan hasil yang berarti maka jangan dipaksakan untuk meneruskan terapi tersebut. Kemungkinan kelainan yang dialami oleh penderita tidak sesuai dengan strategi terapi yang diberikan. Jangan terlalu terburu-buru dalam menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan terapi. Diperlukan konsultasi ulang kepada dokter yang merawat paling banyak dua atau tiga kali pertemuan untuk mengevaluasi hasilnya. Bila dalam dua atau tiga kali pertemuan konsultasi tidak terdapat kemajuan, mungkin harus dicermati terapi yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan penderita.
Harus diperhatikan dalam penanganan penderita Autis hendaknya dilakukan secara holistik atau menyeluruh dengan melibatkan beberapa dokter atau klinisi dari beberbagai disiplin ilmu sesuai dengan gangguan yang ada. Semua gangguan organ tubuh atau gangguan perilaku yang ada harus diperbaiki secara bersamaan. Misalnya, penderita Autis dengan gangguan persepsi sensoris dan gangguan saluran cerna. Telah dilakukan perbaikkan gangguan persepsi sensorisnya dengan terapi okupasi sensori integration. Tetapi perbaikan gangguan saluran cernanya,dengan mencermati jenis makanan yang dikonsumsi seperti alergi makanan atau gluten tidak dilakukan atau sebaliknya. Seringkali terjadi bila satu terapi dilakukan ada perbaikkan, orang tua tidak memperhatikan gangguan lainnya. Keadaan ini menjadi rumit, ketika dokter atau terapis sudah merasa yakin bahwa terapi yang diberikan merupakan satu-satunya terapi yang terbaik bagi penderita autis. Hal ini mengakibatkan perbaikan gangguan perilaku pada autis tersebut tidak optimal.


Sumber: http://dietbehaviour.blogspot.com/2008/04/terapi-alternatif-autism.html

Penanganan Tepat pada Anak Autisme

AUTISME atau disebut dengan Autistic Spectrum Disorder (ASD), hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Meski demikian, saat ini sudah ada beberapa langkah tepat untuk penderita autis agar dapat memiliki kemampuan bersosialisasi, bertingkah laku, dan berbicara.

Anak yang menderita autis sebenarnya dapat diketahui sejak usia dini. Karena umumnya gangguan ini muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Hanya kebanyakan orangtua kurang aware dengan gejala yang timbul pada anaknya hingga usia empat tahun.

Padahal pada usia tersebut, anak sudah larut dengan dunianya sendiri sehingga tidak bisa berkomunikasi dan berinterkasi dengan teman-teman dan lingkungannya. Ketika kondisi tersebut terlambat diketahui, maka langkah utama yang harus dilakukan ialah memfokuskan kelebihan anak di bidang tertentu yang dikuasainya.

Nah, kunci sukses untuk membantu para orangtua atau keluarga agar penderita autis dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, maka seluruh anggota keluarga harus turut langsung membantu para penderita ini berusaha melakukan hal itu.

Menurut dr Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K), pakar autis indonesia, beberapa keganjalan yang sering dilakukan oleh penderita autis dapat dibantu dengan melakukan empat macam terapi. Saat ini sudah terdapat beberapa terapi bagi penderita autis, baik itu terapi perilaku - ABA, terapi sensori integrasi, terapi okupasi, terapi wicara maupun terapi tambahan seperti terapi musik, AIT, Dolphin Assisted Therapy.

"Terapi perilaku - ABA merupakan terapi gentak untuk memperbaiki perilaku anak autis yang sering menyimpang. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah bersuara keras saat memberikan perintah pada anak. Kalau anak tidak mau melakukan apa yang diperintahkan, maka harus mengagetkan mereka," kata dr Irawan dalam seminar yang diselenggarakan di Kantor Pusat Sun Hope Indonesia, belum lama ini.

Terapi sensori integrasi, sambungnya, khusus ditujukan pada fungsi biologis otak. Sehingga otak melakukan segala sesuatu dengan benar. Sementara itu, terapi okupasi dilakukan untuk memperbaiki aktivitas penderita autis. Selain itu ada juga terapi wicara yang dilakukan untuk membantu penderita autis yang mengalami gangguan bicara agar bisa berbicara kembali.

Ternyata agar anak autis dapat kembali di tengah-tengah keluarganya, tak hanya langkah terapi saja yang dilakukan. Pemberian nutrisi tepat bagi penyandang autis juga harus diperhatikan. Karena pada beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang mengalami autisme ternyata juga alergi terhadap makanan tertentu.

Menurut ahli gizi Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, AMG, StiP, orang tua perlu memerhatikan beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari seperti makanan yang mengandung gluten (tepung terigu), permen, sirip, dan makanan siap saji yang mengandung pengawet, serta bahan tambahan makanan.

"Penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan terutama makanan yang mengandung casein (protein susu) dan gluten (protein tepung)," kata Fatimah saat dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Rabu (30/4/2008).

Selain asupan makanan yang tepat, suplementasi pun perlu diberikan pada pasien autis mengingat adanya gangguan metabolisme penyerapan zat gizi (lactose intolerance) dan gangguan cerna yang diakibatkan karena konsumsi antibiotik dengan pemberian sinbiotic (kombinasi Sun Hope probiotik dan enzymes sebagai prebiotik).

"Meski suplemen penting diberikan pada penderita autis, hal yang paling tepat dilakukan adalah memberikan pengaturan nutrisi yang tepat. Ketika makanan tidak tepat masuk ke dalam tubuh, maka akan masuk ke usus halus dan tidak tercerna dengan baik. Akhirnya makanan tersebut keluar melalui urin, karena material tersebut sifatnya toxic (racun) sehingga terserap ke otak. Hal tersebut menyebabkan anak autis semakin hiperaktif," jelasnya panjang lebar.

Tak hanya itu saja, untuk membantu mengurangi gejala hiperaktif dan membantu meningkatkan konsentrasi dan perbaikan perilaku, suplementasi omega 3 yang terdapat pada Sun Hope Deep Sea dapat dijadikan alternatif. (nsa)


Sumber: http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/04/30/27/105350/penanganan-tepat-pada-anak-autisme

Minggu, 19 Oktober 2008

Buku-Buku Seputar Autisme



judul

:

Untukmu Segalanya

penulis

:

Karyn Serioussi

penerbit

:

Mizan

keterangan

:

Perjuangan Ibunda seorang anak Autistik. Mengungkap misteri Autisme dan Gangguan perkembangan pervasive.
Merupakan catatan yang menggugah sekaligus menegangkan tentang kegigihan seorang ibu melawan berbagai tantangan termasuk menantang kemapanan ilmu kesehatan - demi mengupayakan kesembuhan putranya. Buku ini juga memuat tanya jawab seputar autisme, sumber-sumber dan resep makanan bebas gluten dan kasein, serta berbagai bacaan dan organisasi yang bisa dirujuk oleh mereka yang bergelut dengan penderita autisme dan gangguan perkembangan pervasif.





judul

:

Children with Starving Brains : Anak-anak dengan otak yang lapar

penulis

:

Jacquelyn McCandles




keterangan

:

Jaquelyn McCandles adalah seorang psikiater yang mulai mempelajari cara penanganan anak dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) setelah salah seorang cucunya terdiagnosa sebagai ASD. Cucunya tersebut mengalami kemajuan yang cukup pesat setelah dilakukan penanganan biomedis. Dr McCandles sekarang lebih memusatkan pada penanganan anak-anak dengan ASD.
Bukunya memaparkan secara rinci langkah-langhkah biomedik yang bisa dilakukan pada anak dengan ASD.




judul

:

Untaian Duka, Taburan Mutiara

penulis

:

Dra. Dyah Puspita


keterangan

:

Buku ini berisi cuplikan-cuplikan dari kehidupan seorang ibu yang membesarkan putranya yang autistik dan non-verbal. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini dari kesalahan-kesalahan yang telah dibuat. Namun sebagai seorang psikolog justru hal-hal tersebut bisa dianalisanya, supaya jangan ditiru oleh para orang tua lain.





judul

:

Insiden Anjing di Tengah malam yang bikinpenasaran (The curious incident of the dog in the night time)

penulis

:

Mark Haddon - diterjemahkan Hendarto Setiadi

penerbit

:

Kepustakaan Populer Gramedia

keterangan

:

Buku ini ditulis oleh Mark Haddon, atas penuturan seorang individu Asperger yang mengalami kejadian-kejadian menarik dalam hidupnya.




judul

:

maverick ! - kisah seorang ibu MENOLAK diagnosis autisme atas putranya

penulis

:

Cheri L.Florance, PhD

penerbit

:

Qanita

keterangan

:

Dokter mendiagnosis anak ketiganya autistik, Cheri yakin mereka keliru. Ia pertaruhkan kebahagiaan keluarganya untuk membuktikan kesalahan diagnosis itu. Berbekal pengalamannya sebagai ahli terapi bicara, Cheri mengubah Whitney, anak lakinya yang 'bisu-tuli' dan tidak terkendali menjadi remaja sehat bahagia seperti remaja pada umumnya. Kini Whitney berusia 18 tahun.




judul

:

Sindrom Asperger

penulis

:

Tony Attwood, diterjemahkan oleh Santi Indra Astuti




keterangan

:

Buku ini membantu orangtua dan profesional mengenali dan menangani anak serta orang dewasa penyandang sindrom asperger. Ditopang literatur luas dan pengalaman sebagai psikolog klinis selama 25 tahun, Tony Attwood mempersembahkan deskripsi dan analisis mengenai ciri, implikasi serta strategi praktis membantu mengurangi karakteristik unik sindrom ini.




judul

:

Autistic Journey

penulis

:

Oscar Yura Dompas




keterangan

:

Ini adalah buku pertama yang ditulis oleh seorang individu autistik yang sudah keluar dari kriteria autisme. Buku ini ditulis dalam bahasa Inggris dan berisi cuplikan-cuplikan pemikirannya dan observasinya tentang dunia luar dan orang-orang disekitarnya.




judul

:

Dunia di Balik Kaca

penulis

:

Donna Williams

penerbit

:

Mizan